Pages

Tampilkan postingan dengan label artikel cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

Balada Gimpul 7 (TAMAT)

"Siapa tahu kang Tanjir atau kang Jayus akan masuk kamar bapak melalui jende-la." Jasmi mengemukakan alasannya.
"Tetapi bagaimana kalau mereka bertanya mengapa aku berada di luar?"
"Jawab saja sedang menikmati udara malam. Kalau mereka meminta kang Gim-pul masuk ke rumah, hal itu justru harus dicuri¬gai." jawab Jasmi.
Dengan senang hati Gimpul beranjak memenuhi kehendak isterinya. Dari arah ka-mar Salatun terdengar muntah-muntah. Jasmi mencuatkan alisnya. Beberapa hari ini Jas-mi merasa mendengar suara muntah-muntah, hal yang sebelumnya kurang mendapat per-hatiannya.
"Kenapa Salatun itu?" tanya Jasmi.
"Mungkin masuk angin." jawab Gimpul yakin.
"Kok tahu?" desak Jasmi.
"Bukankah tadi ia mengatakan kepadamu, masuk angin?"
"Apakah tadi Salatun bilang begitu ?" bertanya Jasmi.
Gimpul tertawa, mentertawakan Jasmi yang pelupa.
"Tadi kau dimintai bantuan kerokan, tetapi kau mengacuhkannya."
"Oooo, iya to?"
"Sudah, aku mau berada di luar." jawab Gimpul.
Malampun agak menukik. Ketika Gimpul mengintip ke halaman rumah, tidak ada lagi Tanjir dan Jayus di sana. Gimpul curiga. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang ti-dak benar. Dengan gesit Gimpul menyelinap ke halaman samping dan melakukan pe-ngintaian.
“Ternyata benar dugaanku. Mereka akan melakukan sesuatu. Apa yang mereka kerjakan itu?" bertanya Gimpul dalam hati.
Gimpul memperhatikan dengan penuh cermat. Tanjir dan Jayus tak menyadari. Rupanya Tanjir dan Jayus tengah mengintip kamar bapaknya melalui celah di cendela.
"Bagaimana?" bisik Tanjir.
"Aku tidak melihat tas itu." bisik Jayus.
"Pasti disimpan di almari." bisik Tanjir.
"Tengah malam nanti mereka pasti pulas. Aku akan menggunakan aji sirep untuk menidurkan mereka. Japa mantra dari Mbah Surip itu pasti mandi. Begitu aji sirep dira-pal, mereka pasti ketiduran.” berkata Jayus.
Gawat, untuk rencana yang disusun matang itu, Jayus agaknya melibatkan dukun segala. Dari Mbah Surip dukun yang tinggal di Sumberberas, Jayus memperoleh aji sirep dengan harga dua puluh lima ribu rupiah. Dalam dunia permalingan, aji sirep mutlak di-perlukan agar siapa yang menjadi sasaran akan pulas tertidur dibelit rasa kantuk yang luar biasa. Kini aji sirep itu akan digunakan untuk melawan bapaknya sendiri.
Gimpul melihat Tanjir dan Jayus itu kemudian mengendap-endap dan kembali la-gi ke halaman. Gimpul tersenyum. Rupanya Tanjir dan Jayus akan menggunakan cara primitif, jadi pencuri di rumah sendiri. Cara yang tentu saja kurang canggih.
Ganti Gimpul yang menyelinap.
Beberapa ketukan pada jende¬la segera mendapat sambutan. Jendela terbuka, Gim-pul masuk tanpa meninggalkan suara.
"Kau tadi muntah-muntah ?" tanya Gimpul.
"Aku tak bisa menahan diri." bisik Salatun
"Untung tadi mbakyumu bisa kuyakinkan kalau kau hanya masuk angin."
Gimpul memandangi Salatun. Salatun benar-benar sudah siap minggat bersama-nya. Gimpul bisa membayangkan, betapa gemparnya besok. Pak Kampun tentu mencak-mencak. Tanjir dan Jayus ikut mencak-mencak. Dan yang paling tragis Jasmi yang tidak menyangka seperti itu perbuatan suaminya.
Apalagi Gimpul minggat membawa Salatun.
Sebenarnya Gimpul merasa bersalah pada Jasmi, tetapi mau bagaimana lagi, Sala-tun hamil. Kalau perut Salatun dan Jasmi balapan besar-besaran, akan bagaimana nanti? Salah satu harus mengalah. Gimpul memilih Jasmi yang harus mengalah untuk memberi-kan kesempatan pada Salatun.
"Bagaimana dengan petunjuk yang kuberikan kepadamu, apa sudah kau laksana-kan?" tanya Gimpul.
"Sudah." Salatun mengangguk mantab. "Namun untuk mengambil uang itu aku ti-dak yakin bisa kang. Selain pintunya dikun¬ci, jantungku playonan."
Yang dimaksud adalah, Salatun sudah memasukkan pil koplo ke dalam minuman pak Kampun. Mengenai apakah pak Kampun masuk ke dalam jebakan atau tidak, itu ma-sih tanda tanya.
"Bagus. Selanjutnya untuk mengambil uang kita lihat saja nanti. Apakah aku yang harus melakukan, atau terpaksa kau yang harus melakukan. Ingat, jika rencana ini sampai gagal, kita benar-benar berada dalam bahaya.”
"Aku bagaimana?" desak Salatun. “Yang kulakukan sekarang?”
"Kau jangan tidur. Kalau aku berhasil aku akan mengetuk jendela.”
Gimpul memandang dan kemudian memeluk.
"Baik." bisik Salatun penuh yakin.
"Aku akan berada di luar. Jangan tidur dan tunggu ketukan pintu." ulang Gimpul.
Salatun mengangguk sebagai jawaban. Gimpul membuka jendela dan memperha-tikan suasana di luar. Merasa aman, Gimpul segera menyelinap keluar. Salatun menutup rapat jendela itu. Di antara rasa mual yang harus ditahannya, Salatun merasakan jantung-nya berlarian seperti tidak terkendali.
Di ruangan tengah, Jasmi duduk-duduk. Kelihatannya sekedar duduk-duduk, teta-pi sebenarnya sedang mengawasi Tanjir maupun Jayus. Tanjir dan Jayus tentu saja jeng-kel.
"Apa yang kau lakukan itu?" tanya Jayus.
Jayus tak senang melihat Jasmi menjadi Satpam.
"Aku hanya duduk-duduk. Kenapa?" balas Jasmi.
"Ini sudah malam. Tidurlah." kata Jayus.
"Aku ingin melekan sampai pagi. Aku sedang tirakatan." jawab adiknya.
"Tirakatan?"
Tentu Jayus tidak senang. Jayus kurang begitu pintar menyembunyikan ketidak-senangannya itu. Terlihat perubahan yang mencolok di wajahnya. Sebenarnyalah, di luar pengetahuan Tanjir, Jayus bahkan telah memegang kunci cadangan yang akan digunakan masuk ke kamar bapaknya. Rencananya jika Jayus berhasil mengambil uang itu, untuk apa harus berbagi dengan Tanjir. Jayus ingin menguasainya sendiri.
Tetapi apalah arti kunci cadangan itu jika Jasmi menjaga pintu kamar bapaknya dengan ketat. Jasmi bahkan tiduran di depan pintu kamar itu.
"Tirakatan apa kau ini?" desak Jayus.
"Hari ini peringatan geblaknya simbok." jawab Jasmi sekenanya. Padahal jawab-an itu sebenarnya tidak betul.
Anak kedua pak Kampun itu mondar-mandir seperti seterika. Melihat Jasmi du-duk seperti anjing herder menjaga pintu kamar bapaknya, Jayus semakin jengkel. Jayus ingin sekali mencekik leher Jasmi, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan.
Jayus menemui Tanjir.
"Bagaimana?" tanya Tanjir.
Jayus menebar pandang ke gelap malam.
"Jasmi tampaknya sudah tahu rencana kita." jawab Jayus.
Tanjir kaget.
"Dia sekarang menjadi anjing herder, menjaga pintu kamar bapak." Jayus menam-bah.
"Diancuk. Anak itu kurang kerjaan." umpat Tanjir.
"Bagaimana?" desak Jayus.
“Masuk melalui jendela tidak mungkin. Satu-satunya cara untuk masuk hanyalah melalui pintu itu. Dengan mengungkit sedikit kurasa bisa masuk. Gunakan ilmu sirepmu itu” berkata Tanjir.
“Baiklah.” kata Jayus. “Akan kuulang aji sirepku.”
Jayus berkomat-kamit membaca rapal japa mantra, aji sirep yang dibelinya dari dukun mbah Surip. Jayus yang amat percaya dukun, agar menang cap ji kia minta petu-njuk dukun, agar bisa menarik perhatian cewek juga minta bantuan dukun. Dengan rapal-nya Jayus merasa yakin udara membawa partikel-partikel rasa kantuk seiring dengan ra-pal japa mantra yang telah dilepasnya itu.
Selama Jayus merapal sirep, Tanjir memperhatikan Jasmi.
“Bagaimana?” bertanya Jayus.
“Masih belum tidur.” jawab Tanjir. “Jasmi malah main dakon.”
Jayus mencuatkan alisnya. “Dakon dengan siapa?” tanyanya.
“Sendirian.” jawab Tanjir.
“Dasar anak dhemit.” umpat Jayus yang lupa, jika bapaknya demit berari dia sen-diri juga dhemit.
Waktu terus beranjak, menawarkan kegelisahan yang sangat sempurna pada anak-anak pak Kampun itu. Jasmi benar-benar memenuhi kesungguhan hatinya, untuk tidak a-kan tidur apapun yang terjadi. Padahal, untuk masuk ke dalam kamar pak Kampun selain lewat jendela hanya melalui pintu itu.
Untuk membuka jendela tanpa terdengar kegaduhan, sulit. Sebudek apapun pak Kampun, pasti bisa mendengar.
Jayus dan Tanjir benar-benar dibuat jengkel. Jasmi telah berubah menjadi seekor anjing herder yang menyulitkan. Jayus dan Tanjir makin jengkel ketika melihat Jasmi menggelar tikar tepat di depan pintu kamar itu, tidur melungker.
"Setan alas." umpat Jayus di halaman.
"Bagaimana?" tanya Tanjir.
"Agaknya kita harus ikhlas menerima pembagian itu sesuai keinginan bapak. Ti-dak mungkin mencuri uang itu kalau Jasmi seperti itu."
Waktu terus merayap, lengan detik jam dinding tua terus bergerak tidak akan ber-henti. Salatun sangat gelisah karena ketukan jendela yang ditunggu belum datang juga.
Salatun mondar-mandir di dalam kamarnya.
Jasmi akhirnya tertidur di depan pintu mendekati saat fajar. Semburat langit bela-han timur kemerahan.
"Mengapa kang Gimpul lama sekali belum memberi isyarat kepadaku? Apa kang Gimpul belum berhasil mengambil uang itu?" bertanya Salatun dalam gelisahnya.
Salatun resah. Salatun membuka jendela dan mengintip ke luar, tidak ada siapa-siapa di sana.
Langit sebelah timur terbakar. Sebentar lagi srengenge akan menerangi jagad ra-ya setelah semalaman dipeluk gelap malam. Harapan Salatun pupus ketika fajarpun ke-mudian datang. Agaknya Gimpul tidak berhasil dan terpaksa menunggu kesempatan be-rikutnya.
Salatun berbaring menghitung usuk.
Jasmi yang sempat tidur sejenak bergegas ke halaman. Hari memang sudah terang tanah. Jayus dan Tanjir bergelimpangan tidur di emper rumah. Jasmi mencari Gimpul, te-tapi Gimpul tidak ada.
"Kang Gimpul, kang." Jasmi memanggil suaminya.
Tidak ada jawaban. Jasmi menuju ke kamar, Gimpul tidak ada di sana. Di mana Gimpul?
"Kang Gimpul." panggil Jasmi sekali lagi.
Begitu pulasnya Tanjir dan Jayus yang tidur di emperan, tak terganggu oleh kece-masan Jasmi yang mulai merasa curiga. Pintu terbuka, pak Kampun nongol.
"Ada apa?" tanya pak Kampun di antara batuk tuanya.
"Aku mencari suamiku. kang Gimpul tidak ada."
"Lha memang ke mana? Semalam tidak tidur di rumah?"
"Tidak pergi ke mana-mana. Aku akan mencarinya dulu pak, mungkin ketiduran di gardu." berkata Jasmi.
"Mbok sudah tidak usah dicari, nanti kan kembali." kata pak Kampun.
"Kalau ketiduran di gardu tidak ada yang membangunkan, apa tidak memalu-kan?"
"Ya sudah sana." jawab pak Kampun.
Namun bukan hanya Jasmi yang merasa heran karena tidak menemukan suami-nya. Pak Kampun sedikit merasa aneh ketika menengok ke jeding yang terpisah di bela-kang, tidak menemukan isterinya. Ke mana Salehak?
Pak Kampun ke halaman samping, bahkan ke halaman belakang, namun isteri ter-kasih yang semalam dengan begitu bergairah melayaninya tidak ada. Pergi ke mana Sale-hak? Pak Kampun memandangi Jasmi dengan tatapan agak aneh.
"Bagaimana dengan suamimu?" tanya pak Kampun.
"Di gardu tidak ada. Bapak sendiri bingung, ada apa?" tanya Jasmi.
"Ke mana Salehak?" tanya pak Kampun.
Jasmi kaget.
"Lha ke mana?" tanya Jasmi.
“Kucari ke belakang ia tidak ada. Di dapur juga tidak ada. Masih pagi, pergi ke mana dia?"
Tiba-tiba saja prasangka buruk itu tumbuh dengan begitu meriahnya. Jasmi me-mandang pak Kampun dengan cemas yang sempurna.
“Pak...." Jasmi gelisah.
"Bagaimana?" tanya pak Kampun.
"Coba diperiksa uang penjualan sawah itu masih ada apa tidak?"
Jasmi makin tidak sabar. Kegelisahan yang segera beranak-pinak berasal dari rasa curiga itu memenuhi segenap lorong di dadanya.
"Kenapa?" pak Kampun mulai ketularan rasa cemas.
"Diperiksa dulu. Diperiksa dulu uang hasil penjualan sawah itu." desak Jasmi de-ngan gugup.
Dengan tertatih pak Kampun bergegas masuk diikuti dari belakang oleh Jasmi. Salatun yang mendengar ribut-ribut dari ruang tengah itu keluar dan ikut masuk ke kamar bapaknya. Pak Kampun memeriksa almari. Almari itu masih tertutup terkunci rapat.
Desir tajam bagaikan pedang yang menyobek dada dirasakan oleh pak Kampun saat mana almari itu dibuka, tas besar itu sudah lenyap. Pak Kampun menggigil, mulut-nya ndremimil. Betapa gugupnya pak Kampun.
"Bagaimana ini? Ooooo, bagaimana ini? Mana uang itu? Tidak ada? Mana?"
Jasmi ikut pucat. Salatun merasa lambungnya nyeri, bukan hanya lambung, perut-nya juga terasa amat nyeri.
"Ya Allah. Astaghfirullah Aladzim." bisik Jasmi.
"Uang itu kuletakkan di sini, bagaimana bisa tidak ada? Jas, bagaimana Jas? Si-apa yang mengambil? Siapa?" gugup pak Kampun mendaki.
Pak Kampun benar-benar berubah menjadi kakek buyutan. Isi almari diaduk, na-mun tas besar tempat menyimpan uang itu tak ada. Kolong tempat tidur juga diperiksa, tidak ada. Kecemasan itu makin menjadi ketika Jasmi memeriksa jendela, jendela tak ter-kunci.
"Siapa yang telah mengambil uang itu?" pak Kampun berteriak.
Pintu terbuka, semua menoleh.
"Ada apa?" Tanjir bertanya dengan alis yang njengat.
Pak Kampun bertambah gugup. Pak Kampun kebingungan bagaimana harus me-njelaskan lenyapnya uang itu.
"Njir, duwite ilang, uangnya hilang." pak Kampun suaranya bergetar.
Tanjir dan Jayus tersentak, keduanya saling berpandangan. Bersamaan pula mata mereka melotot seperti mau lepas.
"Kok bisa hilang bagaimana? Siapa yang mengambil?" Jayus tidak kuasa mena-han diri, suaranya melengking.
Tanjir melangkah mendekat. Hampir saja leher pak Kampun yang tua itu diceng-keramnya. Jasmi sibuk memapah Salatun yang tiba-tiba terhuyung. Jayus yang amat ke-cewa mengumbar perbendaharaan sumpah serapahnya. Ambrol derajad pak Kampun itu yang tidak ada nilai sama sekali di mata anaknya.
"Uang itu kusimpan di sini, sekarang kok bisa hilang ya?" pak Kampun kelihatan seperti orang bodoh.
"Siapa yang mengambil?" Jayus bertanya. Kasar dan sangar.
Tidak ada yang menjawab. Jasmi diam tidak berani berbicara. Salatun semakin lemas. Pandangan matanya kabur dan semakin kabur.
"Siapa yang mengambil?" Tanjir berteriak dan membutuh¬kan jawaban dengan se-gera,
"Mungkin..." Jasmi ragu akan menjawab.
"Mungkin siapa? Cepat katakan."
"Ada yang tidak berada di rumah saat ini, Salehak dan kang Gimpul. Mereka ti-dak ada." tambah Jasmi,
Salatun merasa matanya mulai berkunang-kunang. Bintang-bintangpun bertabu-ran. Rasa pusing luar biasa akibat darah yang tidak cukup mensuplai otak menyebabkan Salatun terhuyung-huyung dan kemudian jatuh.
Pingsan.
Tanjir melotot pada Jasmi, Jayus melotot pada pak Kampun.
Setelah pendakian yang cukup lama, pak Kampun berhasil menggapai puncak gu-nung kegelisahannya. Rumah pak Kampun bagai terbakar. Tanjir dan Jayus memenuhi sepanjang hari dan esok hari berikutnya dengan segala sumpah serapah. Sebagai orang tua pak Kampun merasa amat tak berharga di hadapan anak-anaknya.
Sedang Jasmi merasa dunia ini telah kiamat. Jasmi yang hamil tidak menyangka kehidupan rumah tangganya yang dikayuh bersama Iwan Gimpul Marjuni akan terpuruk ke dalam lakon yang sedemikian nista. Terbukti benar peringatan yang dulu pernah dibe-rikan oleh almarhumah ibunya, bahwa Gimpul itu buaya. Sayang sekali Jasmi tidak mau peduli pada peringatan itu.
Dan Salatun, gadis itu kehilangan cahaya.

***


GIMPUL DAN SODOMI
Santiago Amoral gugup. Sebodoh-bodohnya Santiago, ia masih bisa menghitung, betapa bahaya kini mengancamnya. Pertanyaan polisi itu, yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka harus dijawabnya, akan membongkar rahasia yang disimpannya dengan rapat, membongkar semua petualangannya. Membelejeti kejahatannya.
Bripka Budi Setyo Pramono memandang tajam.
“Punya kartu pengenal tidak?” suaranya terdengar tegas.
“Pu, punya pak.” jawab Santiago Amoral gugup.
Di sebelahnya wajah Bini Santiago Amoral memias.
Bripka Budi Setyo Pramono memeriksa KTP lusuh itu. Wajah dalam KTP itu sa-ma dengan orang di depannya, tetapi nama yang tercantum dalam KTP itu tidak sama. Seketika wajah bripka Budi Setyo Pramono berubah galak. Pencoleng macam apapun merasa ngeri menghadapi wajah yang berubah sangar itu. Biasanya bila sudah berhadap-an dengan wajah galak seperti itu, pencoleng yang bermaksud menyembunyikan sesuatu, akan kandas terbentur wajah mengerikan itu, terpaksa harus mengakui semua tindak ke-jahatannya.
Polisi berwajah galak itu manggut-manggut, memandangi wajah Santiago Amoral dan isterinya dengan amat tajam, nyaris melotot.
“Saya paling tidak suka dengan orang yang bermaksud membuat laporan palsu, yang bisa-bisa bila tidak benar akan mempermalukan polisi.” ucap bripka Budi. “Dalam KTP ini, anda bernama Gimpul, berasal dari desa Tegaldlimo, kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pekerjaan petani. Bukan main. Saya pernah berdinas di Banyuwangi selama dua tahun, jadi saya tahu bila mustahil seorang petani punya uang seratus lima puluh juta kecuali melalui cara yang tidak beres. Lagi pula, kenapa anda mengaku bernama Santia-go Amoral? Maksud anda apa?”
Pucat pias Santiago “Gimpul” Amoral diberondong dengan pertanyaan yang tidak terduga, sepucat itu pula wajah Bini Santiago “Salehak” Amoral yang membayangkan nasib amat buruk akan menghadangnya.
Naluri polisi yang dimiliki bripka Budi Setyo Pramono memang tajam. Hidung-nya membaui aroma tak beres. Bripka Budi Setyo Pramono bergegas menuju ruang priba-dinya dan mengangkat gagang telepon dan melakukan kontak dengan polsek Tegaldlimo. Sebagai aparat polisi yang pernah dinas di Banyuwangi cukup lama, Bripka Budi Setyo Pramono seperti sedang kangen-kangenan dengan sahabat lamanya.
“Kau membutuhkan keterangan mengenai orang bernama Gimpul?” terdengar suara dari seberang.
“Ya.” jawab bripka Budi Setyo.
“Jadi dia ada di Jakarta?” suara agak penasaran terdengar dari seberang.
“Dia dan isterinya melapor kehilangan uang seratus lima puluh juta di hotel. Saya membutuhkan keterangan terkait dengan orang ini.”
Berita itu diterima dengan antusias oleh suara di seberang.
“Tangkap orang itu berdasar laporan yang sudah masuk di sini. Kejahatan yang dilakukannya adalah, mencuri uang mertuanya sebanyak seratus lima puluh juta rupiah. Ia menghamili adik iparnya dan meninggalkannya begitu saja sementara isterinya sendiri sedang hamil. Perempuan yang bersamanya kemungkinan bernama Salehak, mertuanya sendiri yang berkomplot dengannya. Tahan dia dan segera paketkan ke sini.”
“Beres.” jawab Bripka Budi Setyo Pramono.
Bripka Budi Setyo Pramono tersenyum. Orang yang menerima telepon di sebe-rang adalah bekas teman sekantornya yang sangat akrab dengannya. Bersama-sama mere-ka sering melakukan tugas memburu maling, bahkan menggagalkan perampokan. Mela-lui telepon itu bripka Budi Setyo Pramono memperoleh keterangan yang dibutuhkan de-ngan sangat rinci.
Gemetar dan pucat pias Santiago “Gimpul” Amoral yang cemas kedoknya terbu-ka. Dalam hati ia mengutuk dan menyumpah-serapahi sekaligus menyesali kebodohan-nya mengapa kehilangan uang itu harus dilaporkan ke polisi.
“Saudara Gimpul.” berkata Bripka Budi tegas.
“Saya pak pol.” gugup Gimpul.
Dijawab pak pol, bripka Budi tersinggung. “Apa kau bilang?”
Tambah gugup Gimpul. “Saya pak polisi.” ulangnya.
“Anda berdua, saudara Gimpul bersama-sama dengan saudari Salehak, yang ter-nyata bukan suami isteri, telah berkomplot mencuri uang seseorang bernama pak Kam-pun sebanyak seratus lima puluh juta. Sebagai seorang menantu saudara telah bertindak tak bermoral dan itu sesuai dengan nama palsu anda Santiago Amoral, karena telah ming-gat membawa mertua, meninggalkan isteri yang hamil dan menghamili adik ipar sendiri. Untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan binatang itu, terpaksa anda harus menginap di sini, sambil menunggu anda akan saya paketkan ke kampung halaman untuk memper-tanggung-jawabkan perbuatan anda.”
Pucat pias Gimpul menggapai puncak ketakutannya. Bibirnya bergetar seiring de-ngan tangannya yang juga gemetar. Basah tidak tercegah mengalir membasahi celananya, baunya amat pesing dan tentu saja menyebabkan bripka Budi Setyo Pramono marah bukan kepalang, dengan ketakutan yang luar biasa, Gimpul terpaksa mengepel lantai itu.
Pucat pias pula Salehak menghadapi perkembangan yang tidak terduga itu. Sele-hak menyesal setengah mati, menyesal mengapa sampai tergoda oleh bujuk rayu Gimpul. Salehak hanya bisa melolong ketika seorang polisi kemudian memerintahkannya masuk ke dalam sel khusus wanita.
Secara pribadi, bripka Budi Setyo Pramono paling benci dengan tindakan kejahat-an yang berhubungan dengan pelecehan seksual, pemerkosaan dan pelacuran. Melihat wajah Gimpul, bripka Budi Setyo Pramono seolah membayangkan adiknya sendiri yang mendapat perlakuan tidak bermoral itu, membayangkan seolah adiknya dilecehkan, dino-dai, dihamili dan ditinggalkan begitu saja.
Itulah sebabnya bripka Budi Setyo Pramono menggelandang Gimpul, menempat-kannya ke dalam sebuah sel, yang dihuni tahanan khusus. Tahanan itu bertubuh tinggi dan gempal seperti Mike Tyson, dengan hiasan tatto di sekujur tubuhnya. Di kalangan para penjahat ia mendapat julukan, si Robot Gedek dari Cakung. Kejahatan yang dilaku-kannya adalah melakukan sodomi terhadap anak-anak kecil.
Bripka Budi Setyo Pramono tidak peduli ketika sejenak kemudian dari arah sel itu terdengar jeritan yang menyayat, sebuah pembalasan yang puitis untuk semua perbuatan yang dilakukan Gimpul, itulah untuk pertama kalinya Gimpul mengenal kosa kata yang asing baginya, sodomi.
Di kantin, bripka Budi Setyo Pramono yang telah bekerja keras memesan sotomi.

banyuwangi, 24-02-2000
Berikut ini terjemahan kata-kata yang berasal dari bahasa pendukung, kosa kata berbahasa jawa dan osing ditulis menggunakan ejaan yang berlaku dalam bahasa Jawa.

Digepleng, Jawa, ditipiskan
Lumah dan murep, Jawa, bolak-balik
Nyambi, Jawa, kerja sambilan
Njlemet, Jawa, rumit
Mlongo, Jawa, mulutnya terbuka lebar, ternganga
Kipo-kipo, Jawa, (berharap) jangan sampai terjadi, jijik, tidak mau
Klesak-klesik, Jawa, rumor, isu
Lonthe lanang, Jawa, gigolo
Gandrung, Osing, jenis kesenian mirip tayup di Banyuwangi
Paju Gandrung, Osing, pengibing, atau penonton yang ikut menari gandrung
Kluncing -1, Osing, alat musik berupa besi sebesar jari tangan panjangnya kurang lebih 70 cm dibentuk segitiga.
Kluncing - 2, Osing, penabuh alat musik kluncing
Osing, Osing, nama salah satu suku asli di Banyuwangi.
Saru, Jawa, tidak pantas, tidak sopan
Babon, Jawa, ayam betina
Memeti, Jawa, birahi, akan bertelor
Hadrah Kuntulan, Osing, kesenian rebana yang amat enerjik
Klenger, Jawa, mabuk berat, kehilangan tenaga
Susur, Jawa, tembakau pelengkap orang makan sirih
Gambir, Jawa, salah satu bumbu pelengkap makan sirih
Enjet, Jawa, kapur, salah satu bumbu pelengkap makan sirih
Wanci kinangan, Osing, wadah bumbu-bumbu makan sirih
Kinang, Jawa, Osing, makan sirih
Dubang, Jawa, ludah merah karena makan sirih, singkatan dari idu abang
Kasinen, Jawa, kenyang makan asam garam isi dunia
Ngrusak pager ayu, Jawa, merusak kehormatan
Ra nggenah, Jawa, ngawur, tidak keruan
Kedanan,Jawa, tergila-gila
Gatelen, Jawa, kebelet birahi
Njaluk rabi, Jawa, minta kawin
Kecoh, Jawa, meludah
Nggebros, Jawa, menyemburkan (api)
Njondil, Jawa, kaget
Ngemban, Jawa, menggendong
Sareh, Jawa, sabar
Adol bagus, Jawa, mengandalkan wajah tampan
Wis mati pasaranne, Jawa, tidak laku
Nuthuli, Jawa, sedang makan (untuk ayam ayam atau burung)
Gendeng, Jawa, gila
Kulonuwun, Jawa, permisi
Nggloso, Jawa, duduk dalam keadaan lemas
Slonjor, Jawa, dalam posisi duduk meluruskan kaki
Sluku sluku bathok, bathoke ela elo, Jawa, tembang jawa
Butrowali, Jawa, bahan jamu yang rasanya sangat pahit
Pasrah bongkokan, Jawa, berserah diri, apapun yang akan dialami tidak akan mengelak
Nguping, Jawa, mencuri dengar
Mbobot, Jawa, hamil
Nggilani, Jawa, menjijikkan
Cluthak, Jawa, makan apapun mau
Thukmis, Jawa, dengan siapapun mau, singkatan dari asal bathuk klimis
Kempong perot jambul wanen, Jawa, sudah tua rambutnya penuh uban
Lonthe, Jawa, pelacur, binatang pemakan daun pisang
Mbecek, Osing, mendatangi kondangan
Cincing-cincing klebus, Jawa, terlanjur basah
Mencureng, Jawa, wajah suram
Berkat, Jawa, suguhan makanan dalam kenduri yang dipersilahkan untuk dibawa pulang.
Keplek, Jawa, main kartu
Udut klepas klepus, Jawa, merokok tanpa henti
Paran tutuhan, Jawa, kambing hitam, orang yang dicurigai
Cupang, Jawa, bekas ciuman (gigitan) di leher atau dada
Jeding, Jawa, kamar mandi
Kucing cluthak, Jawa, kucing yang doyan apapun
Warek, Jawa, kenyang
Kapedhotan sih, Jawa, terputus hubungan kasih sayang
Digadhang-gadhang, Jawa, diharapkan
Cagak, Jawa, tiang saka
Dijereng-jereng ngalor ngidu, Jawa, diatur sedemikian rupa
Kebangetan, Jawa, keterlaluan
Lumuh, Jawa, pemalas
Sowan, Jawa, menghadap
Ngeplek kartu, Jawa, membanting kartu, berjudi
Sembada, Jawa, bertanggung-jawab
Nyembadani, Jawa, melindungi dan selalu memenuhi
Mundhut, Jawa, mengambil, memanggil
Nyleneh, Jawa, aneh, tidak wajar
Ngenes, Jawa, menyedihkan
Cep klakep, Jawa, serentak terbungkam mulutnya
Glegeken, Jawa, bersendawa
Ragil, Jawa, anak bungsu
Ulem, Jawa, undangan
Tumplek blek, Jawa, tumpah ruah
Layon, Jawa, mayat
Ngajeni wong tuwa, Jawa, menghormati orang tua
Ngedhur, Jawa, tidak bangun-bangun
Jeleh, Jawa, bosan
Pracangan, Jawa, warung kecil
Nebas, Jawa, memborong (biasanya berhubungan dengan tengkulak)
Kunyuk, Jawa, monyet
Tulup, Jawa, sejenis anak panah
Malang kerik, Jawa, bertolak pinggang
Mendem, Jawa, mabuk, keracunan
Wudel, Jawa, pusar
Usung-usung, Jawa, mengusung bolak-balik
Ngayomi, Jawa, melindungi
Ngingu, Jawa, memelihara
Bedinde, Belanda, pembantu rumah tangga
Batur, Jawa, pembantu rumah tangga
Nggregetke, sing rumangsa dadi lanang mbingungi, Jawa, menggemaskan, yang merasa sebagai laki-la-ki kebingungan
Brangasan, Jawa, berangasan, kasar
Lungka, Jawa, bongkahan tanah
Penthelengan, Jawa, saling melotot
Kukul, Jawa, jerawat
Patri kemasan, Jawa, perajin perhiasan
Nggratil, Jawa, usil
Aja payu rabi sira, muga byain pilih-pilih tebu, ‘sing entuk pucuke, entuka bongkote, Osing, jangan laku kawin kau, semoga pilih-pilih tebu, tidak mendapat pucuknya, mendapat pangkalnya.
Bengkak, Osing, tidak punya malu
Caluk osing, Osing, sejenis pedang dengan ujung melengkung
Gembung, Jawa, tubuh tanpa kepala
Asu, Jawa, anjing
Kowe, Jawa, kamu
Jancuk, Jawa, umpatan
Jirih wedi getih, Jawa penakut
Tak bacok kowe, Jawa, kusabet pedang kau
Endhas, Jawa, kepala
Wagu, Jawa, janggal, tidak pada tempatnya
Dhemen, Osing, suka, cinta
Dhemenan, Osing, bercinta
Misuh, Jawa, mengumpat
Dijotosi, Jawa, dipukuli
Ditonyo, Jawa, dipukuli
Dijejaki, Jawa, ditendang
Bengep, Jawa, babak belur
Paklik, Jawa, paman
Nanahen, Jawa, bernanah
Manukmu, Jawa, burungmu
Ghirah, Madura, Harga diri
Wereng, Jawa, hama tanaman, pelacur
Ndeprok, Jawa, terduduk
Waringuren, Jawa, lupa diri, tidak ingat apapun
Mbabati, Jawa, menebang
Nimbali kula, Jawa, memanggil saya
Ngersaaken menapa, Jawa, menghendaki apa
Saget, Jawa, bisa
Merem melek, Jawa, membuka menutup mata
Ngladeni, Jawa, melayani
Kemelun, Jawa kuna, berasap
Sampun, Jawa, sudah
Mrengut, Jawa, suram
Nuwun Sewu, Jawa, permisi
Mletik, Jawa, muncul (gagasan)
Digremeti, Jawa, dirayapi, dirambati
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, Jawa, apapun yang menghadang akan disingkirkan.
Ing mangsa ketiga, Jawa, di musim kemarau
Njondil senjondil-njondilnya, Jawa, amat kaget
Gerigis, udyan gerigis, geluduke jepretan, aja sira nangis, sedela maning, arep panenan.” Osing, gerimis, hujan gerimis, petirnya bersahutan, jangan kau menangis, sebentar lagi akan panen.
Toh pati, Jawa, beradu nyawa
Gaplek pringkilan, wis tuwek pethakilan, Jawa, sudah tua tidak tahu diri
Emban, Jawa, istilah pembantu dalam keraton, abdi dalem Istana
Ndara putri, Jawa, tuan putri
Kere munggah bale, Jawa, gelandangan naik ke tempat tidur,
Rai gedek, Jawa, tidak tahu malu
Bengkerengan, Jawa, bertengkar
Wis tuwa ra nyebut, Jawa, sudah tua tidak tahu diri
Mikir dalan padang, Jawa, memikirkan akherat
Ngedan, Jawa, sengaja gila
Kesengsem, Jawa, kasmaran
Mingkema cangkemmu, Jawa, tutup mulutmu
Glendam-glendem, Jawa, tidak ada potongan
Modar, Jawa, mati, mampus
Ngompori, Jawa, memanas-manasi, memprovokasi
Malik ilat, Jawa, memutar lidah
Nglulu, Jawa, memanjakan
Ngeret, Jawa, memoroti
Cengar-cengir, Jawa, senyum-senyum
Kebangeten, Jawa, keterlaluan
Nguripi, Jawa, menghidupi
Ngukur gatel neng silit, Jawa, menggaruk gatal di dubur
Silit, Jawa, dubur
Bediding, Jawa, musim dingin
Selak, Jawa, ingkar
Ngaca raimu, Jawa, berkacalah wajahmu
Ngladeni, Jawa, melayani
Ngayani wong wedok, Jawa, menafkahi perempuan
Nglabuhi, Jawa, membela mati-matian
Mbendul, Jawa, bengkak
Nyekar, Jawa, ke kuburan menabur bunga
Kepanggonan, Jawa, ketempatan
Kinyis-kinyis, Jawa, masih baru, luar biasa
Ngrasani, Jawa, membicarakan, ngerumpi
Mrucut, Jawa, terlepas
Kesrakat, Jawa, menderita
Nelangsa, Jawa, sedih
Sanak, Jawa, saudara
Kadang, Jawa, famili
Abang-abang lambe, Jawa, manis di bibir
Panggraita, jawa, indera perasaan, menduga
Kulanuwun, Jawa, permisi
Ngaca, Jawa, berkaca
Glagepan, Jawa, gugup
Gronjalan, Jawa, tidak rata, berdegup kencang
Mbarep, Jawa, anak pertama
Deksura, Jawa, durhaka
Nggegirisi, Jawa, mengerikan
Resik-resik, Jawa, membersihkan, berbenah
Sumringah, Jawa, menarik hati
Cethek, Jawa, dangkal
Bendo, Jawa, semacam pedang
Kesambet, Jawa, kesurupan, in trance
Langgeng, Jawa, abadi
Kesrimpet, Jawa, tersendat, tersandung, terjerat
Klentik, Jawa, minyak kelapa
Nylathu, Jawa, mendamprat, memarahi
Neng-nengan, Jawa, saling mendiamkan
Mrinding, Jawa, bangun semua bulu kuduk
Kepenak, Jawa, enak, nyaman
Ngeyel, Jawa, ngotot
Jangan tempe, Jawa, sayur tempe
Jangan terong, Jawa, sayur terong
Cedhut cenut, Jawa, pusing menahan syahwat
Trocoh, Jawa, genting bocor
Brantaningtyas ingsun, Jawa halus, hasrat hatiku
Grusa-grusu, Jawa, tergesa
Wong edan, Jawa, orang gila
Kranjingan, Jawa, keterlaluan, kurang ajar
Keladuk kebat kliwat, Jawa, kelewatan, keterlaluan
Kancilen, Jawa, tidak bisa tidur, insomnia
Nganeh-anehi, Jawa, tidak seperti biasanya
Bothok, Jawa, masakan jawa berbahan baku kelapa muda dan Lamtoro
Rai gedek, Jawa, tidak punya malu, berwajah seperti dinding
Gedek, Jawa, dinding anyaman bambu
Usrek, Jawa, ribut
Dingklik, Jawa, kursi
Krenggosan, Jawa, tersengal
Pringisan, Jawa, menyeringai menahan sakit, meringis
Mbesengut, Jawa, merengut
Nggenjot, Jawa, menekan, mengayuh
Keblinger, Jawa, keterlaluan, amat salah arah
Dokoh lekoh, Jawa, lahap sekali
Serimbit, Jawa, sekalian, bersama isteri atau pasangan
Ngangsi, Jawa, sampai
Kleleran, Jawa, telantar
Ngentup, Jawa, menyengat
Ora dulur-duluran, Jawa, tidak usah bersaudara
Ngrusuhi, Jawa, mengganggu
Dikupluki, Jawa, dibohongi, dibodohi
Abuh, Jawa, bengkak
Methingkring, Jawa, menaiki, memanjat
Undo, Inggris/istilah komputer, menanggalkan
Ndugal, Jawa, nakal sekali
Pothol ndhas, Jawa, terpotong leher
Mbrakoti, Jawa, memakan/mengerikiti
Dilela-lela, Jawa, dininabobokkan
Ngrikiti, Jawa, memakan sedikit demi sedikit
Nggandoli, Jawa, mengganduli, menggayuti
Ngedum, Jawa, membagi
Emban cindhe emban siladan, Jawa, pilih kasih
Kuwalat, Jawa, kutukan, terkutuk
Nggregeli, Jawa, gemetar
Ngrimuk, Jawa, membujuk
Mrucut saka embanan, Jawa, lepas dari harapan, meleset
Sulap, Jawa, silau
Begal, Jawa, perampok
Cengoh, Osing, bodoh
Njotos, Jawa, memukul
Ndremimil, Jawa, mengoceh
Njengat, Jawa, mencuat ke atas, kaku
Mbegal, Jawa, merampok
Tirakatan, Jawa, berprihatin
Mandi, Jawa, mujarab
Playonan, Jawa, berlarian
Melekan, Jawa, begadang
Geblak, Jawa, peringatan hari meninggalnya seseorang
Srengenge, Jawa, matahari
Usuk, Jawa, kayu-kayu tumpuan genting
Duwite ilang, Jawa, uangnya lenyap
Sodomi, Inggris, hubungan seks melalui dubur

Jumat, 05 Agustus 2011

Balada Gimpul 6

Gimpul bergegas keluar dari kamar sambil mengumpati calon anaknya. Baru di dalam perut saja sudah bikin ulah. Bagaimana nanti jika sudah lahir? Apakah benar-benar akan menyantap bata merah sebagai menu hariannya?
Gimpul tentu saja tidak pergi ke Tegaldlimo Kidul. Ia hanya mondar-mandir di halaman sekedar membuang waktu, seolah-olah benar-benar pergi menuruti keinginan is-terinya.
Dua jam kemudian Gimpul kembali. Jasmi yang memang menunggunya menyam-but kedatangan bata merah itu dengan penuh gairah. Bata merah yang dibungkus tas kre-sek itu disambutnya seperti menyambut bayi yang montok lucu serta menggemaskan. Gimpul mencuatkan alis melihat betapa mesra Jasmi memperlakukan bata merah itu.
Namun Jasmi tersentak, Gimpul lebih tersentak.
"Kau bohong." kata Jasmi sambil melotot.
"Bohong apa?" Gimpul heran.
"Kau tidak pergi ke sana. Ini bukan bata yang diinginkan anakmu."
Alamak, Gimpul benar-benar kaget dan menjadi penasaran. Bagaimana caranya Jasmi bisa tahu dirinya telah berbohong. Bagaimana Jasmi bisa tahu bata merah itu di-ambil dari halaman.
"Pergi." kata Jasmi tegas.
Gimpul pusing kepalanya.
"Aku? Harus pergi ke mana?"
"Ambil bata merah."
Gimpul tidak punya pilihan lain kecuali harus menuruti keinginan Jasmi itu. Ka-lau tak dituruti Gimpul cemas, soal yang sepele itu bisa menjadi besar. Maka dengan ter-paksa Gimpul membangunkan Sugino anak mbokde Kisruh untuk mengantar ke Tegal-dlimo Kidul.
Menjelang pagi Gimpul menyerahkan bata merah itu. Kali ini entah dengan pen-ciuman atau barangkali menggunakan indera ke enamnya, Jasmi percaya dan yakin bata merah yang berada dalam genggamannya berasal dari Tegaldlimo Kidul. Bata merah itu diciumi dengan mesra, dilela-lela seperti menina-bobokkan bayi. Bata merah itu diperla-kukan dengan lembut.
Melihat keanehan itu Gimpul merasa 'neg dan memilih tidur di lantai menggelar tikar.
Ketika bangun pada esok harinya Gimpul kaget melihat bata merah itu tinggal se-paruh. Jadi, benarkah Jasmi makan bata merah itu atas nama anak yang masih berada di dalam kandungan? Gimpul benar-benar ngeri. Kalau Gimpul disuruh ngrikiti bata merah itu, bukan batanya yang rompal, tetapi giginya.
"Kau benar-benar makan bata marah itu?" tanya Gimpul pada Jasmi yang tengah menyedu secangkir kopi.
Gimpul menjulurkan tangan akan menerima kopi itu.
"E’eh, ini bukan punyamu." tepis Jasmi. "Setelah puas makan bata merah, anak-mu ingin minum kopi hangat. Kalau kau mau, bikin saja sendiri."
Gimpul hanya bisa mengelus dada. Pusing kepalanya berubah menjadi migrain yang nggandoli separuh dari kepalanya. Terpaksa Gimpul bikin kopi sendiri.
Salatun yang baru saja dari jeding memberikan kerling mata padanya.
Siang harinya, pak Kampun kedatangan tamu, pak Mudjikan. Rupanya persoalan jual beli sawah telah sampai pada tahap akhir. Gimpul yang merasa berkepentingan de-ngan hal itu sangat gelisah. Namun dengan cermat Gimpul memperhatikan perkemba-ngan. Gimpul berharap Salatun bisa bekerja sesuai dengan rencana. Pendek kata entah bagaimana caranya, hasil penjualan sawah itu harus jatuh ke tangannya.
Tanjir yang paling tidak sabar. Demikian pak Mudjikan pulang, Tanjir segera me-ngorek keterangan dari pak Kampun.
"Bagaimana pak? Sudah laku sawahnya?"
"Sudah." jawab pak Kampun.
"Sudah dibayar?" Tanjir mendesak.
"Sudah." jawab pak Kampun lagi.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Dibagi saja sekarang."
Pak Kampun merasa perih ulu hatinya. Membagi uang penjualan sawah seharus-nya dengan cara yang sakral. Sawah yang dijual itu bagaimanapun juga merupakan harta pusaka yang turun temurun, diwariskan oleh generasi terdahulu.
Dahulu kala pak Kampun dan mbok Kampun menggunakan sawah itu untuk mo-dal yang kemudian berkembang. Sawah yang semula hanya satu hektar telah beranak pinak menjadi beberapa hektar. Naifnya pak Kampun sekarang harus menjualnya dan membagikan seperti membagi barang tak berharga, seperti ngedum kacang.
"Dibagi bagaimana kalau uangnya masih berupa cek seperti ini? Cek ini masih harus ditukarkan ke bank. Banknya di Banyuwangi. Setelah cek ini diuangkan baru bisa dibagi rata."
Dibagi rata? Tanjir rupanya tak senang dengan cara pembagian seperti itu.
"Dibagi rata?"
"Lha bagaimana?" pak Kampun yang kemudian merasa gumun.
"Hak anak lelaki itu tak bisa disamakan dengan anak perempuan. Jasmi dan Sala-tun itu nantinya akan ikut suaminya, mereka menjadi tanggungan suaminya."
Pak Kampun makin prihatin. Di samping serakah, Tanjir rupanya mau menang sendiri. Tentu saja pak Kampun tidak bisa membeda-bedakan semua anaknya. Semua harus mendapat pembagian sama. Tak ada yang boleh lebih dari lainnya.
Pak Kampun memandang Tanjir
"Itu namanya kau mau menang sendiri Njir. Bapak tidak bisa bertindak tidak adil seperti itu. Kamu, Jayus, Jasmi dan Salatun harus mendapatkan jumlah yang sama. Bapak tidak bisa emban cindhe emban siladan."
"Tidak bisa. Pokoknya pembagian harus menggunakan caraku."
Tanjir tak bisa menerima. Tanjir merasa pendapatnyalah yang paling benar. Kok enak Jasmi dan Salatun mendapatkan jumlah yang sama. Wanita itu nantinya akan bersu-ami. Menjadi tanggung jawab suaminyalah Jasmi dan Salatun.
"Aku kira aku sependapat dengan kang Tanjir. Memang harus begitu cara mem-bagi." Jayus yang ikut nimbrung, memberi pukulan gong besar.
"Apa Jasmi dan Salatun akan menerima cara itu? Apakah perlu dibuat geger dulu di pengadilan supaya pembagiannya jelas dan adil?"
Pak Kampun jengkel.
"Ke pengadilan?" Jayus merasa aneh.
Mengapa hal yang demikian harus dibawa ke Pengadilan?
"Ya." jawab pak Kampun tegas. "Soal ini dibawa ke pengadilan saja, biar penga-dilan yang memutuskan, kau akan mendapat berapa, Jayus akan mendapat berapa, Jasmi berapa dan Salatun berapa, termasuk Salehak, ia juga harus mendapatkan. Bapak tidak a-kan menguangkan cek ini kalau belum ada kesepakatan lebih dulu."
Bahwa Jasmi dan Salatun akan mendapat jumlah yang sama membuat Tanjir ma-rah, apalagi nama Salehak juga disebut sebagai salah seorang yang akan menerima wa-risan, membuat Tanjir seperti kebakaran jenggot.
Tanjir menggebrak meja.
"Aku sudah mengatakan berulang kali. Perempuan murahan itu hanya babu di ru-mah ini. Meski bapak telah mengambilnya sebagai isteri, aku tidak pernah menganggap-nya sebagai ibu. Ia tak boleh mendapatkan sepeserpun. Kalau sampai itu terjadi, aku akan beli bensin dan akan kubakar dia."
Sebuah ancaman mengerikan. Salehak yang menyimak pembicaraan itu dari keja-uhan tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
Namun entah mengapa pak Kampun kali ini tidak suka diancam, pak Kampun ti-dak suka digertak seperti itu. Anak mestinya berbakti pada orang tua, bukan memusuhi dan mendampratnya. Tanpa ada orang tua, mana ada anak? Jadi memang tidak sepatut-nya Tanjir melotot kepadanya, tak sepatutnya Tanjir menggebrak meja.
"Ooo begitu?" jawab pak Kampun tambah tidak senang. "Kau akan melakukan ancaman itu le? Boleh saja kau lakukan itu, dan aku memutuskan tidak ada pembagian warisan sama sekali. Biar kau jadi gembel kere seperti di pinggir jalan itu, aku tidak peduli."
Pak Kampun yang mulai bangkit kemarahannya itu menatap Tanjir dan Jayus de-ngan pandangan garang. Nafasnya tersengal. Apabila pak Kampun terkena serangan teka-nan darah tinggi, gawat.
Sayang Tanjir tidak bisa membaca suasana. Tanjir tambah emosi. Tanjir tak pe-duli lagi pada kuwalat, atau pada dosa karena berani pada orang tua.
"Jangan memancing kemarahanku. Aku bersungguh-sungguh dengan ancaman itu. Akan kubakar isterimu itu kalau dia kau beri warisan. Secuil sekalipun."
Tanjir kemudian meninggalkan pak Kampun yang sibuk menata degup jantung. Jayus yang agak cemas pak Kampun akan terserang bludrek segera menyusul Tanjir me-ninggalkan pak Kampun sendiri. Jasmi yang menyimak pembicaraan itu dari balik pintu sibuk mendamaikan diri pula. Akan tetapi Jasmi tetap saja nggregeli.
"Apa yang terjadi Jas?" Gimpul bertanya.
"Sawah itu sudah laku kang. Pak Mudjikan yang membeli dan dibayar kontan, na-mun masih berupa surat cek yang masih harus ditukarkan dulu di bank. Tetapi,.."
Jasmi resah. Gimpul gelisah.
"Tetapi bagaimana?" desak Gimpul.
"Kang Tanjir dan kang Jayus mau menangnya sendiri. Kang Tanjir dan kang Ja-yus berpendapat, anak perempuan tidak perlu mendapatkan warisan."
Gimpul kaget. "Alasannya?"
"Karena anak perempuan menjadi tanggungan suaminya. Karena aku akan menja-di tanggunganmu." berkata Jasmi.
Gimpul manggut-manggut. Kok indah sekali alasan itu, pikir Gimpul. Karena pe-rempuan akan menjadi tanggungan suaminya? Gimpul tersenyum.
"Akhirnya ketahuan juga belangnya.” berkata Gimpul. “Ketika dahulu kedua ka-kakmu itu ngrimuk dirimu supaya mau pulang dan bersama-sama menghadapi bapakmu, tujuannya memang agar warisan segera dibagi. Namun setelah tanah warisan itu laku, mereka mau mengangkangi sendiri. Kau yang semula dijadikan teman untuk menghadapi bapakmu, sekarang berbalik akan dijadikan musuh."
Jasmi membenarkan pendapat suaminya. Pada kenyataannya keadaan memang seperti itu.
"Dan karena kita dianggap musuh, sementara keperluan mereka sudah terpenuhi, bisa saja kita diusir, disuruh minggat dari rumah ini. Kita terpaksa usung-usung lagi. Di-tonton para tetangga lagi."
"Jadi bagaimana?" Jasmi resah.
"Tergantung pada sikap pak Kampun. Apakah bapakmu akan menuruti kehendak kedua anak lelakinya itu. Kalau pak Kampun takut pada ancaman Tanjir dan Jayus dan kemudian menuruti permintaan mereka, maka kau tidak akan mendapat apa-apa."
Jasmi kian gelisah.
"Beri aku saran kang Gimpul, apa yang harus aku lakukan, aku harus bagaima-na?"
"Aku ini hanya menantu Jas, kalau aku ikut campur, nanti disalahkan, karena uru-san ini adalah urusan keluargamu." balas Gimpul.
"Kau suamiku kang. Kau harus membantuku, berilah aku pendapat apa yang ha-rus kukerjakan?" Jasmi gelisah.
Gimpul berfikir mencoba mencarikan pemecahan yang sebaik-baiknya. Untuk le-bih meyakinkan, Gimpul meletakkan ujung telunjuknya ke kening.
"Kamu bicarakan dengan bapakmu. Jangan memusuhinya. Juga jangan memusuhi isterinya. Hanya itulah kuncinya. Yang penting sekarang bapakmu. Kalau bapakmu me-ngatakan merah, maka jadilah merah. Kalau pak Kampun mengatakan hitam, jadilah hi-tam."
Jasmi memerlukan waktu beberapa kejap untuk mencernakan pendapat suaminya itu.
"Kang Gimpul benar. Sebaiknya aku memang harus berbicara dengan bapak."
Gimpul gembira karena sarannya diterima. Dengan demikian Gimpul akan mem-peroleh informasi yang akurat mengenai gerak uang itu nantinya. Syukur seandainya pak Kampun membawa pulang uang itu semua, dan tidak perlu menyimpannya di bank. Un-tuk apa sih uang disimpan di bank, supaya aman? Ah, itu kan akal-akalannya pihak bank yang ingin cadangan uangnya banyak. Harusnya uang itu disimpan di bawah bantal saja, supaya gampang mencurinya.
"Jangan kamu tunda. Sekarang juga kau bicarakan dengan bapakmu. Ingat Jas, ja-ngan memusuhinya dan jangan memusuhi isterinya. Hanya itulah kuncinya." Gimpul me-nambahkan petunjuk.
"Ya." Jasmi menjawab.
Jasmi memang tidak menunda-nunda lagi. Jasmi bergegas menemui bapaknya.
Ketika Jasmi mengetuk pintu, Salehak yang membukanya. Jelas sekali betapa Sa-lehak gugup, sebagaimana Jasmi merasa serba salah harus berbicara dengan Ibu tirinya itu.
"Ada apa?" tanya Salehak dengan volume lirih saja.
"Maaf. Aku mau bicara dengan bapak."
Jasmi mengutarakan keperluannya dengan sikap yang agak serba salah. Salehak bingung. Pak Kampun telah berbaring. Pak Kampun tadi berpesan untuk jangan diba-ngunkan siapapun yang ingin bertemu. Pak Kampun yang tadi emosi menghadapi Tanjir dan Jayus ingin meredakan diri dengan tidur.
“Bapak sudah tidur, apakah harus aku bangunkan?" Salehak bertanya.
"Ya, bangunkan saja." jawab Jasmi.
Pak Kampun yang sebenarnya sulit tidur menerima Jasmi di kamarnya. Jasmi me-mandang tempat tidur, ada kembang kantil dan melati ditebarkan di atas tempat tidur, ba-rangkali maksudnya supaya tempat tidur itu berbau wangi. Atau boleh jadi Salehak yang merasa suaminya yang sudah tua itu bau sekali hingga diperlukan bunga kantil dan melati untuk meredam.
"Ada apa Jas?" pak Kampun langsung pada persoalan.
"Langsung saja pak.” berkata Jasmi. “Apa bapak akan membagikan warisan itu menggunakan cara yang diusulkan kang Tanjir dan kang Jayus, yang mau mengabaikan aku dan Salatun?"
Pak Kampun manggut-manggut. Resahnya tambah membuncah.
"Apa Tanjir dan Jayus menyampaikan hal itu padamu?"
"Aku mendengar pembicaraan bapak dengan mereka." jawab Jasmi.
"Sesama saudara seharusnya rukun. Kalau ada sesuatu yang menimpa, siapa lagi yang dimintai tolong kalau bukan saudara sendiri. Karena warisan, kakak dan adik bisa jadi musuh."
Pak Kampun prihatin, kisah macam itu tidak seharusnya menimpa keluarganya. Dahulu Pak Kampun berharap setelah dewasa empat anaknya akan selalu rukun, bahu membahu dalam menghadapi kesulitan hidup macam apapun. Namun mrucut saka em-banan, kenyataan yang ada tidak seperti yang diharapkan. Perpecahan terjadi karena ma-sing-masing berebut harta.
"Aku tidak tanya soal itu pak. Aku ingin tahu dengan cara bagaimana bapak akan membagi?" Jasmi mengulang.
Pak Kampun menekan dadanya yang masih nyeri.
“Bapak kecewa sekali Jas. Kau ternyata tidak ubahnya kakakmu, yang hanya me-mikirkan warisan itu."
"Masalahnya aku mendengar dengan telingaku sendiri. Kang Tanjir dan kang Ja-yus mau menang sendiri" Jasmi membela diri.
“Bapak akan bertindak seadil-adilnya, semuanya dapat. Sudah, hanya itu yang bisa kukatakan." berbicara pak Kampun.
Tidak ada pembicaraan lagi antara pak Kampun dengan Jasmi. Salehak menuntun pak Kampun yang tersengal kembali naik ke pembaringan. Salehak dan Jasmi sempat be-radu pandang. Bersamaan keduanya segera mengalihkan tatapan mata yang bersirobok itu.
Di luar pintu, Jasmi yang penasaran menempelkan telinga ke dinding. Jasmi ingin tahu apa yang akan dibicarakan Salehak dengan pak Kampun.
"Ruwet anak-anakku ‘Hak. Mereka semuanya sudah sulap pada harta sampai tak menghormati orang tua lagi."
Salehak menunduk dan kemudian memandang pak Kampun. Dari celah lobang Jasmi bisa memperhatikan adegan yang berlangsung itu.
"Akulah yang menjadi penyebab semua ini pak." ucap Salehak dengan nada serak.
Jasmi terlonjak.
"Jangan kau berpendapat seperti itu. Anak-anakku yang salah, bukan kamu."
"Sebaiknya pak Kampun jangan bersikeras untuk memberiku warisan. Mereka se-mua akan makin membenciku. Dikiranya aku mau menjadi isterimu karena mengingin-kan hartamu. Bagikan saja secara adil uang itu pada mereka semua, kalau perlu diadakan acara selamatan atau syukuran supaya uang dari warisan itu membawa berkah. Memba-wa manfaat bagi mereka semua."
Jasmi bagai dililit pesona yang tak diketahui dari mana asalnya. Jasmi tidak me-ngira Salehak mempunyai hati yang begitu bersih dan luhur. Jasmi agak terpukul. Bahwa selama ini ia berprasangka begitu buruk pada Salehak, ternyata prasangka itu salah.
"Aku justru heran mengapa orang sebaik kau justru dimusuhi ‘Hak." pak Kampun mengeluh.
Jasmi di luar merasa tersindir. Di dalam Salehak terlihat sedih.
"Sudah, jangan kau pikirkan mereka. Perkara hasil penjualan warisan itu, besok a-ku akan berbuat seadil-adilnya."
"Aku tak perlu mendapatkan apapun pak."
"Tidak bisa. Kau isteriku, kau juga harus mendapatkan." pak Kampun tetap bersi-kukuh.
Namun Salehak merasa ngeri kalau Tanjir mewujutkan ancamannya. Kalau Tanjir menyiram tubuhnya dan kemudian membakarnya, itu hal yang menakutkan sekali.
"Aku tak akan menerima pak Kampun. Sudahlah, bagikan saja kepada mereka se-mua. Aku ikhlas. Aku berkesempatan menjadi isteri pak Kampun, bagiku sudah merupa-kan anugerah. Aku hidup sebatangkara di dunia ini, lalu ada yang berkenan memungutku, hal itu sudah alhamdulillaah. Apa aku masih menginginkan yang lain? Tidak pak Kam-pun. Aku mohon pak Kampun membagikan harta warisan itu untuk mereka semua, aku tidak usah."
Jasmi terharu. Pembicaraan pak Kampun dan isteri mudanya itu mengharu-biru dan memporak-porandakan keangkuhan serta prasangkanya. Jasmi sama sekali tidak me-ngira, Salehak berhati amat mulia, begitu bersih bagaikan hati malaikat atau bidadari.
Suara Salehak yang tersendat seperti orang yang menahan tangis bagai merontok-kan isi dadanya. Ternyata, berprasangka buruk pada isteri muda pak Kampun itu meru-pakan kekeliruan yang amat besar.
"Kau ikhlas?" desak pak Kampun.
"Aku ikhlas." jawab Salehak.
"Baiklah, mungkin ada benarnya apa yang kau katakan. Uang itu aku bagikan saja semua pada mereka. Untukmu aku akan mencarikan sendiri.”
Namun jika ingat kehendak Tanjir, pak Jayus resah.
"Moga-moga Tanjir dan Jayus tidak menang-menangan. Mau menang sendiri."
"Kenapa?" tanya Salehak sambil mengusap air mata.
"Tanjir dan Jayus memiliki pendapat berbeda. Menurut mereka, anak perempuan tidak bisa menerima hak yang sama dengan anakku yang lelaki."
Salehak termangu.
"Kalau begitu caranya, kasihan Jasmi dan Salatun." kata Salehak.
"Jasmi dan Salatun anak-anakku juga. Bahkan maksudku, aku justru ingin mem-berikan sedikit lebih kepada Salatun anakku yang bungsu itu, Salatun sangat kehilangan dengan kepergian simboknya. Mungkin warisan itu akan sedikit menghiburnya. O ya, kau masih didiamkan oleh Salatun?"
"Aku berusaha ramah kepadanya, mengajaknya bicara, tetapi Salatun hanya me-njawab seperlunya. Padahal aku ingin akrab. Tidak sebagai Ibu dan anak, tetapi seperti saudara, atau teman."
Jasmi yang terus menguping nyaris tersedak. Jasmi benar-benar tidak menyangka Salehak memiliki hati yang demikian bersih, jiwa yang begitu mulia. Rasa bersalah itu kian membuncah, membeset wajahnya.
"Bagaimana dengan Jasmi? Jasmi masih judes?" tanya pak Kampun.
"Sudah tidak lagi." Salehak menjawab. "Kami hanya masih canggung."
Jasmi merasa perlu mencernakan keadaan itu.
"Kau bersabarlah. Ketelatenanmu akan meluluhkan hatinya. Mereka akan meneri-ma kehadiranmu bukan sebagai orang yang perlu dicurigai." pak Kampun berbicara sam-bil membelai rambut isterinya.
Pak Kampun mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Salehak segera menjatuh-kan diri ke pelukan suaminya. Andaikata pak Kampun masih muda, pak Kampun tidak perlu terhuyung-huyung seperti itu. Baru beberapa saat dijadikan sandaran pak Kampun sudah tersengal.
"Kecuali dengan Tanjir dan Jayus. Aku melarang kamu akrab dengan mereka, ka-rena sangat mungkin mereka akan melahapmu. Aku cemburu sayangku."
Lhadalah, pak Kampun punya rasa cemburu?
Adegan selanjutnya? Jasmi risih mengintip, apalagi punya bapaknya. Jasmi berge-gas meninggalkan pintu kamar itu.
Dengan gontai Jasmi melangkah ke halaman. Pikirannya terus terpusat pada so-sok Salehak yang ternyata tidak seperti yang selama ini dibayangkan. Salehak mau dika-wini lelaki tua itu bukan karena hartanya, namun sekedar menitipkan awak. Demikian ju-ga dengan pak Kampun, dengan mengawini Salehak pak Kampun juga menitipkan diri.
Jadi mengapa harus risih karena pak Kampun yang sudah tua, mencoba mencari tempat untuk saling berbagi masalah, tempat untuk berbagi gelisah, sebuah hal yang ti-dak mungkin dilakukan sejak mbok Kampun tiada. Mengapa malah tidak bersyukur?
Risih karena kebetulan pilihan itu jatuh kepada Salehak, si babu yang jelita itu? Jasmi atau orang pada umumnya hanya melihat pak Kampun yang sudah tua. Jika sudah tua dengan sendirinya tidak pantas melakukan ini tak pantas melakukan itu. Pendek kata banyak hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang tua dan hanya pantas dikerjakan o-rang-orang yang muda saja. Jika orang tua tidak tahu diri yang muda dengan enteng ber-kata, gaplek pringkilan wis tuwek pethakilan. Mereka pada umumnya lupa, bahwa orang yang sudah tua sekalipun, tidak ada yang bisa melepaskan diri dari kemauan, kehendak dan keinginan. Dan pak Kampun itu hanya manusia yang tak bisa melepaskan diri dari jeratan kemauan.
Kalau pak Kampun sudah tidak mau apa-apa, Saat itu pak Kampun sudah mati.
"Salahkah bapakku kawin lagi?" bisik Jasmi kepada diri sendiri.
Akhirnya Jasmi juga harus berfikir, kalau bapaknya tidak kawin lagi lantas ke mana harus membuang nafsu birahinya karena pada kenyataannya pak Kampun masih memiliki kemampuan untuk itu. Ke pelacuran? Tentu hal yang tak dibenarkan. Bahkan sebenarnya lebih memalukan punya bapak yang gemar keluyuran ke pelacuran. Entah apa kata orang jika pak Kampun itu gemar memanjakan diri dari pelukan pelacur satu ke pelacur yang lain. Jadi apa salahnya menerima kehadiran Salehak?
"Ternyata Salehak tidak sejahat yang kusangka. Mungkin ada benarnya. Yang dia butuhkan bukanlah kedudukan sebagai isteri pak Kampun, tetapi orang yang bisa melin-dunginya. Salehak hanyalah seorang wanita yang tidak punya sanak dan kadang. Tidak punya siapapun di dunia ini. Tidak ada jeleknya kalau aku ikhlas menerima kehadiran-nya."
Jasmi terus merenung dan berfikir, mengikuti kemanapun angannya.
"Rupanya bapak benar, dengan adanya Salehak, ada yang mengurusi bapak. ber-harap dari anak-anaknya hal itu tak mungkin."
Sepercik kesadaran bagai menyelinap di dalam hatinya. Semakin dipikir semakin membuat Jasmi merasa amat bersalah. Dan tiba-tiba saja Jasmi merasa berkewajiban un-tuk mengubah keadaan itu. Bukan hanya dirinya, namun juga Tanjir dan Jayus serta Sa-latun semua salah dalam menilai keberadaan Salehak itu. Seharusnya, dengan adanya Sa-lehak yang mau berkorban menjadi isteri pak Kampun, mereka berterimakasih.
Salatun perlu diberitahu lebih dulu.
Jasmi yang hamil muda itu menuju kamar adiknya. Pintu diketuk, agak lama ba-rulah Salatun membukanya.
"Ada apa, yu?" bertanya Salatun, Sambil menghadang di depan pintu, mengha-lang-halangi kakaknya yang bermaksud masuk.
"Kau tahu suamiku?"
"Apa aku menyembunyikan suamimu?" balas Salatun.
Jawaban berupa pertanyaan seperti itu sebenarnya merupakan indikasi adanya se-suatu yang tidak pada tempatnya. Sayang Jasmi tidak peka. Jasmi sedang pilek berat, se-hingga tidak bisa menangkap adanya bau busuk.
"Maksudku, kau tahu ke mana perginya?" tanya Jasmi.
"Tidak tahu yu. Aku ngantuk. Jangan ganggu aku, aku mau tidur."
"Ehhh, Tun." bisik Jasmi.
"Sawah sudah laku, tetapi kang Tanjir dan kang Jayus punya pendapat yang nyle-neh, kita berdua tidak akan mendapat bagian sama dengan kang Tanjir dan kang Jayus, alasannya karena kita perempuan. Menurut mereka, perempuan tak boleh menerima wa-risan.”
Rupanya berita itu tidak mengagetkan Salatun.
"Aku sudah tahu hal itu. Kang Tanjir dan kang Jayus memang mau menang sen-diri."
"Karena itu Tun, kita harus bersatu. Kalau kang Tanjir dan kang Jayus berpenda-pat seperti itu, maka kita berdua harus menentangnya. Kau mengerti Tun?"
"Ya." jawab Salatun sambil menguap lebar, memamerkan kantuknya.
"Ahhh, sudah sana tidur kamu." Jasmi jengkel.
Salatun segera menutup pintu. Jasmi yang bermaksud membicarakan Salehak lu-pa pada tujuan semula. Rasa mual kembali menyergapnya. Dengan tergesa-gesa Jasmi pergi ke jeding untuk meredakan diri. Di kamar Salatun membuka almari. Gimpul yang meringkuk segera keluar. Hampir saja Gimpul kehabisan nafas.
"Yu Jasmi mencarimu." kata Salatun.
"Biar saja." bisik Gimpul.
"Sebaiknya kau jangan lama-lama berada di sini. Seperlunya saja."
"Aku akan keluar. Tetapi ingat Tun, hanya uang penjualan sawah itu yang bisa menyelamatkan kita. Kau harus berhasil. Jangan sampai gagal."
Rupanya waktu mendekati saat kritis. Gimpul dan Salatun yang telah menyusun rencana merasa perlu mematangkan kembali rencana itu. Segala sesuatu dievaluasi lagi agar semua berjalan lancar tanpa hambatan. Pendek kata, semua uang hasil penjualan sa-wah nantinya harus bisa dikuasai untuk biaya. Salatun yang hamil tak punya pilihan lain. Kalau rencana itu sampai gagal, sebuah bencana siap mengintai.
Namun salah besar kalau beranggapan yang punya rencana itu hanya Gimpul dan Salatun. Di pihak yang lain, Jayus juga menggunakan ilmu kucing mengintai tikus men-cari saat yang tepat untuk pada saatnya menerkam.
"Peduli setan dengan semuanya. Kalau cek yang dipegang bapak itu sudah jadi u-ang maka aku harus bisa menguasai uang itu. Aku tinggal mencari kesempatan untuk me-ngambil serta mengucapkan selamat tinggal semuanya. Aku akan pergi sejauh-jauhnya dan tidak perlu pulang kembali ke sini. Besok seisi rumah ini akan gempar. Geger semu-anya. Bapak hanya bisa mencak-mencak, Tanjir hanya bisa melolong seperti anjing, Jas-mi dan Saatun hanya bisa menangis. Tetapi persetan semuanya."
Itu sebabnya, seharian Jayus tidak pergi ke mana-mana.
Jayus sibuk mondar-mandir mempelajari suasana dan jika saatnya tepat, segera mengambil tindakan.
Waktu merambat tidak tercegah oleh apapun atau siapapun. Tanjir yang merasa sudah dekat dengan saat pembagian harta warisan sibuk menghubungi teman-temannya. Sepeda motor milik Sukarjiman yang tidak dijual ditawar. Tanjir juga menawar burung kacer milik pak Ragum. Pak Ragum juga tidak bermaksud menjual, namun karena Tanjir kasmaran berat pada burung kacer itu, maka harga empat ratus ribu hanya untuk harga seekor kacer disepakati.
Gimpul meski tegang namun masih mampu menutupinya dengan sikap yang wa-jar. Sebagaimana Jayus, Gimpul tak pergi ke mana-mana. Dengan cermat Gimpul mem-perhatikan suasana, karena itu Gimpul bisa menangkap keadaan yang tidak wajar pada Jayus. Bahwa Jayus tidak pergi ke mana-mana, justru membuatnya curiga.
Salatun diam-diam juga mempersiapkan diri. Beberapa lembar pakaian yang akan dibawa telah disiapkan. Benda-benda berharga yang ia miliki telah dikemas dan dima-sukkan ke dalam kopor butut. Pendek kata Salatun siap untuk minggat setiap saat.
Jasmi sama sekali tidak berprasangka. Pada saat Gimpul berbaring di sampingnya , Jasmi memandangi wajahnya berlama-lama. Kini Jasmi tengah hamil. Beberapa bulan lagi Jasmi akan melahirkan. Jasmi berharap, jika sudah punya anak kebiasaan buruk suaminya akan berubah.
Sore beranjak malam dan esok paginya datang. Pagi beranjak siang.
"Hmmm," Gimpul berdehem.
Jasmi kaget.
"Kau kang Gimpul. Bikin kaget saja."
"Kau ini menyapu sambil melamun atau benar-benar tidak tahu kalau ada aku di sini, atau sebenarnya tahu tetapi hanya diam saja?" tanya Gimpul.
Jasmi menyeringai.
"Kamu melamun memikirkan apa?" tanya Gimpul.
“Bapak, sudah siang begini kok belum pulang. Aku gelisah, jangan-jangan terjadi sesuatu pada bapak. Padahal bapak hari ini menukarkan cek itu ke bank."
"Apanya yang kau cemaskan?" tanya Gimpul.
"Sudah sering aku dengar cerita di kota-kota besar itu. Banyak sekali kejadian o-rang yang baru saja mengambil uang di bank kena begal."
"Jangan membayangkan hal mengerikan seperti itu Jas." kata Gimpul menente-ramkan hatinya.
"Semoga saja bapak tidak bodoh." jawab Jasmi dengan nada datar, memancing Gimpul untuk mencuatkan alis.
"Tidak bodoh bagaimana?" tanya Gimpul.
"Kupikir uang sebanyak itu kalau dibawa pulang utuh tidak aman. Ehh, Apa ber-lebihan kalau aku mencurigai kemungkinan uang itu nanti dicuri?"
"Siapa yang akan mencuri?" Gimpul tiba-tiba gelisah.
"Mungkin saja kang Tanjir atau kang Jayus. Keduanya patut dicurigai. Bisa saja mereka berbuat nekad dan membawa minggat uang itu. Jika sampai hal itu terjadi, aku dan Salatun akan dapat apa?"
Gimpul merasa dadanya seperti dirambati desir. Namun bukan Gimpul kalau ti-dak bisa segera menghapus kesan itu dari wajahnya.
"Moga-moga saja hal itu tidak perlu terjadi. Tetapi kau tadi berharap semoga Ba-pak tidak bodoh, apa maksudmu?"
"Aku berharap bapak melakukan saranku dengan menyimpan uang itu di bank. Tadi aku berpesan seperti itu." ucap Jasmi.
"Mati aku." desis Gimpul dalam hati.
Bisa-bisa renca¬na yang telah disusun dengan baik itu meleset. Kalau pak Kampun menyimpan semua uang itu di bank, langkah apa yang harus diambil? Gimpul pusing tu-juh keliling memikirkan kemungkinan yang paling buruk. Gimpul sudah marang dengan rencananya, apabila Salatun tidak berhasil mencuri uang itu, maka ia akan minggat seja-uh-jauhnya, tak peduli pada Salatun yang hamil, tak peduli pula pada Jasmi yang hamil.
"Kau menyarankan seperti itu?" ada nada kecewa dalam hati Gimpul.
"Bagaimana menurut kang Gimpul?" tanya isterinya.
Siapa bilang membawa uang dalam jumlah banyak tidak aman? Ahhh, itu kan ha-nya pendapat yang terlalu berlebihan. Tentu saja pihak bank yang menggembar-gembor-kan agar menyimpan uang di bank, maksudnya memang untuk menghimpun uang seba-nyak-banyaknya. Untuk hal itu pihak akan bank memberikan bunga yang sebenarnya ti-dak ada nilainya. Coba di pasaran gelap asal punya modal dan bisa tega mau jadi ren-tenir membungakan uang, dengan bunga sepuluh persen banyak yang berebut. Bahkan dua puluh persen sebulan banyak yang menubruk.
Gimpul sangat jengkel dengan pendapat itu, jengkel kepada Jasmi yang begitu cengoh telah menyarankan kepada pak Kampun untuk menyimpan di bank. Jasmi benar-benar bodoh.
"Menyimpan uang di bank itu memang aman dan baik, tetapi mengenai kecuriga-anmu bahwa kedua kakakmu akan bertindak curang rasanya itu agak berlebihan." berkata Gimpul.
"Aku amat curiga. Jika bukan kang Tanjir pasti kang Jayus yang akan melaku-kan." Jasmi resah.
"Sudahlah, mereka tidak akan melakukan hal itu Jas." Gimpul menen¬teramkan.
Di dalam hatinya Gimpul berkata, bukan Tanjir atau Jayus yang layak dicurigai, tetapi Gimpul juga.
Tentu saja Gimpul gelisah. Gimpul terlanjur membayangkan setumpuk uang ada di benaknya, namun rencana itu bisa bubar kalau benar pak Kampun mengambil langkah seperti yang disarankan Jasmi.
Waktu bergeser, siang terlampaui dan sorepun datang, pak Kampun ternyata masih belum pulang. Hal itu memancing kegelisahan yang baru. Ada apa dengan pak Kampun? mengapa belum pulang juga? Sebagai orang yang merasa berkepentingan, Gimpul merasa jengkel pada pak Kampun yang belum pulang juga. Atas nama kepen-tingan yang sebenarnya bukan haknya itu Gimpul mengumbar curiga, jangan-jangan pak Kampun sendiri sedang memainkan kartu trufnya. Kenapa tidak? bukankah pak Kampun sekarang memiliki mainan yang menyenangkan bernama Salehak itu?
“Kurang ajar pak Kampun.” bisik Gimpul dalam hatinya.
Bukan hanya Gimpul dan Jasmi yang resah, di halaman depan Tanjir dan Jayus juga kelihatan resah dan berbisik-bisik berdua.
Entah apa yang tengah mereka perbincangkan, namun aroma rencana jahat itu be-gitu kental terlihat di rona wajah mereka. Baunya amat menyengat.
"Jas." kata Gimpul, yang amat curiga pada manuver tidak terduga yang mungkin diambil pak Kampun.
"Ada apa kang?" balas Jasmi.
"Rupanya yang perlu kau curigai justru bukan kakakmu." berkata Gimpul.
Jasmi memandang wajah suaminya yang beku, seperti mencari sesuatu di wajah itu. Namun Gimpul pintar menyembunyikannya di balik beberapa buah jerawat dan lapi-san wajah topengnya. Gimpul yang harus menjaga supaya gerak-geriknya jangan sampai kentara membuang wajah memandang halaman dan pepohonan.
"Siapa?" Jasmi terpancing.
"Bagaimana kalau pak Kampun tidak akan pulang?" bertanya Gimpul dengan wa-jah tetap ditekuk.
Butuh waktu lebih lama bagi Jasmi untuk mencerna kecurigaan yang aneh itu. Jasmi menempatkan diri di depan Gimpul, tetapi lagi-lagi Gimpul memandang jauh sam-bil berusaha keras membuang kesan dari wajahnya.
“Bapakku, tidak pulang?" Jasmi mencuatkan alis.
Tetap saja Jasmi masih belum paham ke mana arah pembicaraan Gimpul.
"Pak Kampun tidak akan pulang sampai besok, dan bahkan besoknya lagi. Atau sampai kapanpun pak Kampun tidak pulang." berkata Gimpul.
Gimpul menyuburkan prasangka itu, membuat Jasmi semakin gelisah dan tidak mampu lagi berfikir jernih. Curiga macam apa saja dengan mudah ditelannya.
"Mengapa bapak tidak pulang?" bertanya Jasmi.
"Bukankah pak Kampun punya isteri baru? Namanya orang juga lagi kasmaran dan tidak perlu mengurus anak karena sudah pada besar semuanya. Kalau Salehak mem-pengaruhinya apa yang tidak mungkin. Mungkin Salehak bilang pada pak Kampun, Ayo minggat sejauh-jauhnya, ke tempat yang aman di mana di tempat itu tidak akan diganggu oleh anak-anakmu."
Gimpul menjelaskan sebuah kemungkinan. Padahal kalimat itulah yang ia pergu-nakan merayu Salatun minggat sejauh-jauhnya, ke tempat yang tidak akan diganggu sia-papun.
Jasmi cemas. Jika pak Kampun sampai tega berbuat seperti itu, benar benar ke-terla¬luan.
"Bagaimana? Kemungkinan itu ada bukan?" desak Gimpul.
Jasmi ingat kemarin saat menguping pembicaraan pak Kampun dengan Salehak. Rasanya tak mungkin pak Kampun akan setega itu. Jasmi juga ingat bagaimana sikap Sa-lehak yang mengalah, memilih tidak menerima apapun. Namun kalau sudah berhadapan dengan uang, apalagi yang jumlahnya begitu banyak, bisa saja segalanya berubah.
"Kang Gimpul benar." Jasmi goyah. "Tetapi, apa mungkin bapak akan sanggup melakukan itu? Apakah mungkin bapak akan sanggup memutuskan hubungannya dengan anak?"
Gimpul menabur racun. Untuk urusan macam itu Gimpul memang jagonya, uru-san merayu, memfitnah dan provokator, Gimpul jagonya. Pernah pada sebuah malam ada pentas gandrung yang riuh oleh jejalan penonton. Pentas itu bubrah karena Gimpul berha-sil memancing di air keruh. Tanpa alasan yang jelas, Gimpul njotos seseorang, yang di-jotos tentu tidak terima, namun saat mau membalas, Gimpul sudah lenyap. Maka yang terjadi kemudian terjadilah tawur yang tidak jelas apa sebabnya.
"Apa yang tidak mungkin dengan dugaan itu, apalagi pak Kampun merasa diha-dapkan dengan anak-anak yang tidak menghargainya lagi seperti kang Tanjir dan kang Jayus itu? Pak Kampun beberapa hari ini sebel pada anak-anaknya yang semua memusu-hinya, hal itu memudahkan pak Kampun untuk mengambil keputusan minggat. Toh anak sudah besar semuanya, cepat atau lembat mereka akan bisa mandiri. Barangkali seperti itu pikiran bengkok yang ada di benak bapakmu. Nah, mengapa sampai petang begini ba-pakmu belum pulang. Lagi pula pak Kampun pergi dengan siapa?"
Jasmi merasa isi dadanya rontok, cemas membayangkan kemungkinan yang sangat buruk itu. Apa yang dikatakan suaminya benar semua. Bahkan Jasmi nyaris me-yakini itulah jawabannya. Pak Kampun belum pulang juga karena Pak Kampun minggat, sayonara semua anak-anaknya.
Jasmi tidak melihat betapa geram wajah Gimpul yang kecewa itu.
“Betapa bodohnya pak Kampun.” berkata Gimpul dalam hati. “Minggat mening-galkan kami semua adalah tindakan yang bodoh. Ke manapun akan aku kejar.”
Itulah Gimpul, entah bagaimana caranya ia begitu pintar mengadopsi kemarahan yang mestinya bukan haknya menjadi kemarahannya sendiri. Menurut Gimpul tindakan orang lain yang tidak sesuai dengannya adalah tindakan salah, konyol dan bahkan goblok.
"Kalau begitu, harus dicari." Jasmi melempar gagasan.
"Mencarinya ke mana? Ke kamar mayat?" balas Gimpul sekenanya. Senyumnya sinis sekali.
Jasmi gelisah, Jasmi berjalan mondar-mandir ke depan balik ke belakang lagi, ke depan lagi lalu balik ke belakang lagi. Bila Jasmi diberi kabel dan dihubungkan ke colo-kan listrik di tembok, jadilah seterika.
"Jadi bagaimana kang?" Jasmi tambah gelisah.
Gimpul tertawa getir. Cemas membayangkan angan-angannya akan kandas. Soal-nya Gimpul sadar benar, jika sampai ia gagal menguasai uang itu, ia akan dihadapkan ke-sulitan yang luar biasa. Kehamilan Salatun tidak akan bisa disembunyikan, pengadilan yang paling mengerikan harus dihadapi. Bisa jadi Tanjir dan Jayus akan mengambil lang-kah paling anarki seperti yang baru-baru ini membudaya, dengan menyiram bensin dan membakarnya. Mati dengan cara seperti itu, Gimpul ngeri sekali.
"Kita hanya bisa berharap semoga dugaan itu salah. Namun bersiaplah menghada-pi kemungkinan itu." berkata Gimpul semakin memanasi.
Jasmi menyeka keringat dinginnya yang mengembun di kening. Belum lama Jasmi kehilangan simboknya, haruskah Jasmi kehilangan pak Kampun dengan cara yang sangat tragis seperti itu?
"Lalu bagaimana dengan kami anak-anaknya?" suara Jasmi terdengar amat serak.
Kembali Gimpul tertawa, nadanya amat tak enak di telinga. Kalau saja pak Kam-pun mendengar bagaimana Gimpul tega mem¬fitnahnya, pasti akan dikepruknya kepala lelaki itu dengan alu.
"Kau sudah besar dan sudah bersuami. Dengan sendirinya kau menjadi tanggu-ngan suamimu. Bagaimana dengan Salatun? Salatun juga sudah gadis, jadi tidak perlu ada yang dipikir lagi. Maka minggatlah pak Kampun dengan tanpa meninggalkan beban. Enteng saja beliau minggat meninggalkan kita." Gimpul menyiramkan bensin.
Emosi sekali Gimpul. Bisa-bisanya Gimpul emosi. Gimpul kan hanya anak me-nantu yang tak punya hak untuk itu.
Gimpul sungguh jengkel. Cemas jika rencananya sampai gagal.
Gimpul dan Jasmi yang berbincang sambil berbisik seketika diam ketika men-dengar ada suara langkah dari ruang tengah, Rupanya Jayus yang datang. Dengan penuh curiga Jayus memandangi suami isteri yang saling berbisik itu. Rasa curiga memang sedang jadi lakon, Jasmi curiga kepada kakak-kakaknya, Jasmi kemudian curiga juga kepada bapaknya, demikian pula dengan Tanjir dan Jayus, ia curiga kalau dicurigai. Itu sebababnya melihat Jasmi dan Gimpul saling berbisik, ia curiga.
“Dari mana saja kang?" tanya Jasmi seperti hanya sekedar bertanya, daripada ti-dak ada yang ditanyakan.
"Siapa yang dari mana saja? aku berada di rumah sejak tadi.” balas Jayus.
Pertanyaan sederhana itu saja sudah mampu memancing rasa curiga di hati Jayus, sebaliknya jawaban Jayus yang seperti itu tak tercegah mengundang kecurigaan Jasmi dan Gimpul. Dan percayalah, betapa tidak menyenangkan hidup di lingkungan yang sa-ling curiga dan mencurigai. Dengan alasan yang tidak jelas curiga bisa menjadi kompor yang membakar. Hanya curiga saja, belum ada bukti, sudah menjadi pembantaian dukun santet dan sebagainya.
“Bapak belum pulang?"
Ternyata tidak hanya Gimpul dan Jasmi yang resah. Jayus juga gelisah. Dari itu saja Jasmi dan Gimpul sudah curiga.
"Belum." Jasmi menjawab pendek saja.
"Ke mana saja orang itu? Sudah petang begini masih belum pulang."
Gimpul yakin, Jayus memiliki rencana seperti dirinya. Dari gelagatnya atau dari gelisahnya tampak betapa Jayus menyembunyikan sesuatu. Hal itu menambah kadar ke-resahan Gimpul. Ibarat sebuah pertandingan siapa yang mampu bermain dengan baik dan cermat, mampu bersiasat dengan jitu dan jika perlu harus tega menjegal, maka orang itu-lah yang akan memenangkan pertandingan. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan me-nang." bisik Gimpul pada diri sendiri.
“Mana aku tahu?” jawab Jasmi. “Perginya saja dengan isterinya. Pergi di saat pe-gang uang banyak. Apa kang Jayus tidak mempunyai prasangka bapak tidak akan pu-lang?"
Pertanyaan Jasmi itu jelas mengadopsi pendapat Gimpul. Dengan demikian ter-lihat berapa suksesnya Gimpul sebagai provokator. Padahal seharusnya, Jasmi mencan-tumkan dengan lengkap dari mana pendapat itu berasal. Jika kelak undang-undangnya sudah dibuat, Jasmi atau siapapun tidak boleh sembarangan bertanya dengan menyembu-nyikan siapa pemilik pertanyaan dan atau yang mempunyai pendapat seperti itu.
Nah, seketika sebuah tanda tanya menggoda Jayus.
"Ada apa? Menurutmu ada apa, kenapa bapak tidak pulang?"
"Apa kau tidak merasa curiga, mengapa sampai petang begini bapak belum pu-lang? Padahal sedang ada urusan uang begitu banyak. Bagaimana kalau bapak tidak pu-lang?" bertanya Jasmi.
Jayus heran. Bukannya Jayus telmi, itu istilah dari singkatan telat mikir, akan te-tapi Jayus belum mendengar alasannya. Sebagaimana Jasmi sebelumnya, Jayus berpenda-pat tak mungkin bapaknya akan minggat.
"Tidak pulang kenapa?" ulang Jayus.
"Kalau malam ini tidak pulang, besokpun tidak pulang, bahkan sampai kapanpun tidak pulang bagaimana? kau akan mendapatkan apa? kita semua akan mendapat apa?"
Jayus menatap wajah adiknya dengan tidak berkedip. Jayus juga memandang Gimpul yang buru-buru melempar tatapan matanya ke arah lain. Jayus lebih mendekat untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci.
“Bapak tidak akan pulang, katamu?" Jayus menekan.
"Mungkin bapak tidak akan pulang. Minggat sejauh-jauhnya. Bukankah bapak pu-nya isteri baru yang cantik. Tentunya menye¬nangkan menghabiskan uang itu dengan iste-rinya daripada membagi¬kan pada kita." Jasmi menjelaskan lebih gamblang lagi.
Jayus termangu mencerna hal itu, masuk akal juga.
"Gila." Jayus terlonjak. Terlonjaknya terlambat bila dihitung dari sejak kagetnya.
Penjelasan Jasmi itu bisa dirasa seperti seekor ular yang mematuk kaki. Atau petir yang meledak di siang bolong, pada saat langit bersih tidak ada mendung, artinya Jayus memang tidak siap menghadapi rasa kaget yang datangnya mendadak.
"Bagaimana? Mengapa sampai petang begini, bapak belum pulang?" Jasmi mene-kan. “Bisa jadi bapak akan melupakan kita. Bukan hal yang harus membutuhkan pertim-bangan yang terlampau rumit bagi bapak untuk memutuskan, apalagi jika mengingat ti-dak ada lagi yang perlu ditimbang. Anak-anaknya tidak ada yang berbakti, bahkan me-ngancam akan membakar isterinya. Kang Jayus dan kang Tanjir membentak-bentak ba-pak seenaknya tanpa menghargai perasaannya, jadi untuk apa pulang?”
Pertanyaan Jasmi itu semakin memancing resah. Jayus mengepalkan tangan se-perti orang yang menahan marah, atau segumpal kejengkelan. Jayus cemas rencana yang disusunnya tak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Apabila pak Kampun ming-gat demi memanjakan isteri barunya itu, gawat. Benar-benar gawat.
"Jika yang kau bilang itu benar, Ini bukan soal yang remeh lagi." Jayus mengge-ram. "Akan kukejar sampai di manapun kalau bapak benar-benar minggat. Orang tua tidak tahu diri. Sudah tua akan mati begitu yang dipikir hanya nafsu syahwatnya saja. Akan kucari mereka, akan kubunuh perempuan sundal itu."
Pintu butulan terbuka Salatun muncul dengan wajah cemas.
"Ada apa to kok ribut-ribut?" tanya Salatun.
Jayus butuh penyaluran, kebetulan Salatun jadi katupnya.
"Diam kamu.” bentaknya “Kamu anak kecil tahu apa.”
Salatun tentu saja kaget dibentak seperti itu. Apalagi Jayus melototkan mata.
"Apa salahku?" tanya Salatun dengan mimik heran.
Jasmi segera merengkuh adiknya. "Kamu tidak bersalah apa-apa Tun.”
Jasmi menarik Salatun untuk duduk di sebelahnya. Salatun menatap Jayus yang wajahnya bagai kepiting direbus. Wajah Jayus yang jelek itu menjadi lebih jelek lagi di saat marah seperti itu.
"Akan kucari mereka." Jayus masih kesal.
"Sebaiknya bersabar dulu kang Jayus. Dugaan itu belum tentu benar." kali ini si Gimpul nimbrung, memberikan sumbang saran.
"Belum tentu benar bagaimana?" Jayus sangat jengkel. "Sudah jelas sampai pe-tang begini bapak belum pulang, ia tentu minggat dengan sundel itu. Aku harus men-carinya."
Jayus mondar-mandir sambil sesekali mengepalkan tangannya. Matanya keme-rahan menahan kemarahan. Kedua mata itu adakalanya melotot, seperti mau lepas dari kelopaknya.
"Terus mencarinya ke mana?" tanya Gimpul.
"Mencarinya ke mana ya?" Jayus malah bingung.
"Kalau kang Jayus mau mendengar pendapatku, sebaiknya janganlah berprasang-ka buruk dulu. Ditunggu saja, siapa tahu nanti pulang." Gimpul menenangkan.
Nah itulah sisi lain dari sosok Gimpul. Tadi kepada Jasmi ia menempatkan diri sebagai provokator yang dengan culas mengipas. Giliran di depan Jayus, Gimpul bersikap sebaliknya. Di depan Jasmi membakar, di depan Jayus membujuk.
"Benar kang. Ditunggu saja." Jasmi menenteramkan.
Jayus sangat gelisah. Mulutnya ndremimil. Jayus berbicara kepada diri sendiri. Jayus lupa kalau di sekitarnya ada orang lain. "Aku menjadi sangat curiga, boleh jadi me-mang benar bapak ming¬gat. Gila, ternyata bapak lebih cerdik."
Jasmi kaget mendengar ucapan itu. Seketika alisnya mencuat njengat ke atas. Jas-mi dan Gimpul saling melirik.
"Kenapa kang?" Jasmi tidak kuasa menahan penasaran.
"Oh, ti..tidak." Jayus merasa kelepasan omong. Agak gugup Jayus menjawab per-tanyaan itu.
"Yu, bapak kenapa?" Salatun membutuhkan jawaban dengan segera.
Salatun merasa ngeri membayangkan bakal kehilangan untuk yang kedua kalinya. Dulu ia sudah kehilangan simbok, haruskah kini ia kehilangan bapaknya? Jasmi yang bisa membaca gejolak perasaan di dada adiknya segera merengkuh tubuh Salatun, dipe-luknya.
"Ini hanya sebuah dugaan Tun, masih belum tentu benar. Memang ada kemung-kinan bapak minggat bersama isteri barunya itu, tetapi belum tentu benar." Jasmi menje-laskan.
"Bapak minggat?" Salatun kaget. Wajahnya pucat.
Jasmi hanya mengangguk.
"Kita tidak punya bapak yu?" bertanya Salatun dengan mimik wajah aneh.
Mendengar pertanyaan itu Jasmi amat tersentuh. Jasmi segera meraih pundak a-diknya. Di mata Jasmi, Salatun tentu gelisah. Baru beberapa waktu yang lampau mbok Kampun pergi, haruskah kini juga kehilangan bapak?
"Kalau benar, kita memang tidak punya bapak lagi." dengan serak dan seperti sa-ngat terpaksa, Jasmi menjawab.
"Kok perkembangannya menjadi seperti ini to yu?" tanya Salatun menahan sesak di dada.
"Akan kukejar ke manapun mereka pergi. Ke liang semut sekalipun." suara Jayus terdengar sarat letupan amarah.
Suasana kemudian menjadi hening. Jam amat tua yang menempel di dinding me-njadi tempat mereka memperhatikan gerak waktu. Jam itu tetap berada di sana karena tak laku dijual. Apabila laku sepuluh ribu rupiah saja, pasti Tanjir atau Jayus berebut dulu untuk melegonya.
Jayus membawa sumpah serapahnya ke halaman, di sana ada Tanjir dengan pera-piannya. Dari jendela Jasmi mengintip. Jayus berbicara berdua dengan Tanjir, tidak jelas apa yang mereka perbincangkan.
Suasana resah kian membuncah, hati yang gelisah semakin menjadi. Jam dinding tua terus mengayunkan lengan detiknya, merambati waktu dari menit ke menit.
Gimpul pusing sekali. Uang sekian puluh juta di depan mata, bisa jadi akan lepas begitu saja dari tangannya. Padahal kalau uang itu bisa berada di tangannya, Gimpul akan melenyapkan diri seperti di telan bumi, hilang ke ujung dunia yang tidak akan bisa di-lacak siapun. Dengan uang itu Gimpul akan berfoya-foya, mencicipi dan merasakan ba-gaimana nikmatnya menjadi orang kaya. Dengan uang itu Gimpul akan memuasi diri dengan wanita-wanita yang paling cantik yang bisa dibelinya.
Kini ada kemungkinan, keinginan dan mimpinya itu akan terganjal. Betapa kece-wanya kalau sampai hal itu terjadi.
Pada saat yang amat resah membuncah demikian itulah, tiba-tiba saja terdengar sebuah mobil masuk ke halaman. Jasmi dan Gimpul tersentak. Dengan bergegas mereka berlarian menuju jendela untuk melihat siapa yang datang. Tanjir dan Jayus yang dari mula sudah berada di halaman gemetar ketika melihat ada polisi yang turun dari ken-daraan itu. Untung mereka segera menyelinap dan bersembunyi di balik kandang.
Polisi? Mengapa ada polisi? Jasmi dan Gimpul segera riuh dengan prasangka. Pintu belakang mobil itupun terbuka, pak Kampun turun sambil menggandeng Salehak.
"Ada apa bapak pulang dengan membawa polisi?" bisik Jayus cemas.
Jayus ingat beberapa hari yang lalu ia menjambret yu Sumilah di dekat bendu-ngan air Dam Limo. Akan halnya Tanjir ingat, entah sudah berapa kali ia keluar masuk rumah orang tanpa permisi alias maling. Pernah juga Tanjir dan Jayus duet, sukses mem-bawa tape rekorder dan Tivi yang kemudian dijualnya di Genteng.
Tanjir dan Jayus ingat pula saat maling di toko Babah Jing yang ada di sudut per-tigaan jalan. Saat maling itu apa yang dilakukan Tanjir sungguh keterlaluan. Menurut il-mu yang diyakini para maling, agar tak tertangkap harus buang hajat di rumah yang di-jarahnya.
Padahal saat itu Tanjir mencret.
"Siapa dari antara kita berdua yang akan ditangkap?" berbisik Tanjir.
Jika demikian, apakah kedatangan para polisi itu akan menangkapnya? Boleh jadi karena polisi sekarang pintar-pintar. Mungkin polisi sudah tahu kalau yang mencuri di toko Babah Jing juga beberapa rumah yang lain itu sebenarnya Tanjir dan Jayus.
Pak Kampun dan Salehak mempersilahkan kedua Polisi itu duduk di ruang tamu. Saat di halaman, mereka tidak melihat Tanjir dan Jayus yang dengan cepat bersembunyi di balik kandang. Mereka hanya melihat perapian yang digunakan menghangatkan tubuh di musim bediding itu.
"Apa yang dilakukan bapak itu?" Jayus gelisah.
"Tampaknya bapak sedang berusaha melindungi kita." bisik Tanjir.
"Apakah kita harus lari saja? Daripada disel?"
"Jangan dulu dan kita lihat perkembangannya. Kalau jelas kedua Polisi itu memang bermaksud menangkap kita, kita bisa bersembunyi." berkata Tanjir.
Tanjir dan Jayus benar-benar gelisah.
Mereka tidak menyangka perbuatan jahat yang pernah mereka lakukan telah dien-dus polisi. Untuk beberapa saat pak Kampun berbincang dengan ke dua orang polisi itu. Sesekali dari ruang tamu itu terdengar suara tertawa yang berderai. Suasana perbinca-ngan yang terasa akrab itu justru membuat Jasmi dan Gimpul heran. Meski dari balik din-ding mereka mencoba menyimak pembicaraan yang sedang terjadi, akan tetapi mereka tidak berhasil mengetahui apa isi pembicaraan pak Kampun dengan para tamunya.
Polisi-polisi itu tidak berlama-lama, sejenak kemudian mereka telah berpamitan. Jasmi bergegas menemui bapaknya.
"Dua polisi tadi mau apa? Siapa yang mau ditangkap?" Jasmi tidak kuasa mena-han rasa penasaran.
Pak Kampun yang kemudian malah merasa heran.
"Menangkap siapa?"
Jasmi diam. Hanya alisnya yang kemudian mencuat.
"Mana Tanjir dan Jayus?" tanya pak Kampun.
Jasmi dan Salatun saling pandang.
"Jadi ke dua polisi itu mencari kang Tanjir dan kang Jayus?" tanya Salatun.
Pak Kampun bertambah heran. Tentu saja polisi itu tidak bermaksud menangkap Tanjir dan Jayus. Kedatangannya untuk mengawal pak Kampun yang membawa uang da-lam jumlah banyak. Maklum sekarang perampokan terhadap nasabah bank sedang mera-jalela. Semula pak Kampun akan menerima uang cash dari mencairkan cek, tiba-tiba pak Mudjikan berubah pikiran. Pagi itu pak Mudjikan mengajak pak Kampun ke Jember untuk menengok orang sakit sekalian mencairkan cek itu di Genteng. Pak Mudjikan yang membutuhkan pengawalan polisi karena mengambil uang kontan cukup banyak untuk membayar para nelayan yang telah setor ikan laut kepadanya. Pak Mudjikan kemudian meminta kepada para Polisi itu untuk mengantar pak Kampun pulang.
Demikianlah kejadiannya.
"Mengapa kau mengira polisi itu akan menangkap Tanjir dan Jayus?" tanya pak Kampun.
Jasmi dan Salatun saling pandang. Salatun mengangkat bahu.
"Kang Tanjir dan kang Jayus ketakutan, mereka bersembunyi. Mereka yang ma-ling di toko Babah Jing beberapa hari yang lalu." Salatun menjelaskan.
Pak Kampun kaget.
"Dari mana kau tahu itu?" desak pak Kampun.
"Mereka sendiri yang bilang seperti itu." jawab Jasmi. "Maksudku, aku mende-ngar pembicaraan mereka."
“Yang mbegal yu Siti Sumilah di bendungan Dam Limo itu juga.” Salatun me-nambahkan. “Kang Jayus yang melakukan.”
Pak Kampun menekan dadanya yang tiba-tiba amat nyeri. Pak Kampun memang sudah mendengar cerita seram yang menimpa Babah Jing. Maling yang kurang ajar itu bukan hanya menguras isi tokonya, namun meninggalkan kotoran manusia di sana. Dan yang melakukan semua itu ternyata anaknya sendiri. Pak Kampun juga sudah mendengar cerita tentang yu Sumilah yang dicegat perampok di bendungan, siapa mengira yang melakukan itu anak-anaknya.
"Astagfirullah Aladzim, Tanjir dan Jayus melakukan perbuatan seperti itu?" tanya pak Kampun dengan nada suara bergetar.
Pak Kampun sama sekali tak menyangka punya anak maling.
"Jadi benarkah pak? Polisi tadi sedang mencari kang Tanjir dan kang Jayus?" Jasmi mendesak.
"Mana ke dua kakakmu itu, panggil dia kesini." perintah pak Kampun.
Jasmi atau Salatun tidak perlu beranjak memanggil, karena Tanjir dan Jayus nye-lonong masuk. Semua perhatian memang tertuju pada sebuah tas besar yang tergeletak di atas meja. Cek sudah diuangkan, dan uangnya satu tas penuh. Siapa yang tak tergoda me-lihat uang yang sebanyak itu.
Dengan sekuat tenaga Gimpul menghapus kesan apapun dari wajahnya. Namun dengan cermat Gimpul membaca suasana. Dengan teliti pula Gimpul membaca gelagat aneh di wajah Tanjir dan Jayus. Jelas Jayus merencanakan sesuatu yang mungkin tidak akan terduga. Itu sebabnya Gimpul dengan seksama dan penuh perhitungan memperhati-kan perkembangan keadaan.
Pak Kampun memandang Tanjir dan Jayus dengan kecewa. Kecewa sekali. Seba-gai seorang bapak pak Kampun tidak pernah membayangkan di antara anaknya akan ada yang berprofesi maling.
"Kau tahu dua orang polisi yang datang ke sini tadi?" bertanya pak Kampun pada Tanjir dan Jayus.
Tanjir tak menjawab. Jayus memandang Tanjir. Kedatangan Polisi tadi masih me-nyisakan degup jantung.
"Mereka mau apa?" Jayus yang bertanya.
Pak Kampun benar-benar merasakan dadanya sesak. Kecewa sekali.
"Pertanyaanmu itu sebenarnya sudah kamu ketahui jawabnya. Kamu sebenarnya sudah tahu apa keperluan mereka."
Jayus maupun Tanjir bertambah gugup.
Salatun menggamit Jasmi. Jasmi menggamit tangan Gimpul. Gimpul memanda-ngi Jayus. Mata Jayus melirik Tanjir, mata Tanjir meilirik tas.
"Mereka mau apa?" Tanjir cemas.
"Polisi itu datang kemari, karena ada hubungannya dengan pencurian di toko Ba-bah Jing." jawab pak Kampun.
Pak Kampun ingin mendapat keyakinan, bahwa memang benar Tanjir dan Jayus-lah pelaku pencurian yang menghebohkan itu. Seketika wajah Tanjir dan Jayus menjadi pucat. Situasi yang mereka hadapi tambah gawat. Dari wajah yang berubah itu, pak Kam-pun bisa mendapatkan kesimpulannya.
"Maling, di toko Babah Jing?" Tanjir pura-pura kaget.
"Aku tidak mengira dua orang anakku telah menjadi maling, pencuri. Memalu-kan. Apa salahku sehingga aku mempunyai anak yang perbuatannya seperti itu? Kalian mengaku apa tidak?" bertanya pak Kampun dengan amat berwibawanya.
Tanjir yang biasa membentak bapaknya itu kini terbungkam.
"Sebenarnya polisi tadi mau apa?" tanya Jayus.
"Mereka mencari kalian. Pertanyaan peristiwa di toko Babah Jing dan penjambre-tan yang menimpa Sumilah di bendungan, jawabannya ada di rumah ini.” jawab pak Kampun singkat dan tegas.
Gugup di wajah dua anak lelaki pak Kampun itu dengan jelas terbaca. Namun mana ada maling yang mau mengaku. Kalau semua maling mengaku, maka gedung ta-hanan tentu akan penuh sesak.
"Kami tidak melakukan apa-apa. Polisi itu salah alamat."
"O ya? Apakah kau merasa yakin? Kalau kau merasa yakin bapak akan mengan-tarmu ke kantor polisi. Katakan bantahanmu itu pada polisi itu."
"Waaaah, jangan." jawab Tanjir.
"Kalau tak merasa bersalah mengapa kau takut?" desak pak Kampun.
"Mengaku saja." tambah Jasmi.
Pada dasarnya Tanjir gampang gugup. Ditekan seperti itu, keluar pengakuannya.
"Iya, kami memang melakukan." jawab Tanjir tersendat.
Jayus tentu saja jengkel pada Tanjir. Jayus ingin tetap bersikukuh pada penola-kannya, sebaliknya Tanjir dengan begitu cepat mengaku. Dengan kasar Jayus menyikut Tanjir, sejenak kakak dan adik ini beradu melotot.
"Itu perbuatan gila. Pak Kampun mempunyai anak jadi maling, mau diletakkan di mana wajah bapakmu ini?" suara pak Kampun terdengar amat serak.
Suasana rumah pak Kampun seketika menjadi hening. Senyap sekali. Pak Kam-pun kembali cemas. Jika seperti itu keadaan kedua anak lelakinya, lantas akan jadi apa-kah jika uang penjualan sawah itu dibagi. Uang itu tentu akan ludes tanpa tanggung ja-wab.
Pak Kampun menebar pandang, dadanya kian nyeri.
"Hasil penjualan sawah batal aku bagikan." kata pak Kampun.
Tanjir dan Jayus kaget.
"Kenapa?" tanya Tanjir.
"Apa jadinya dengan uang ini kalau aku bagikan sekarang? aku tidak keberatan kalau warisan kalian minta sebagai modal untuk berdagang atau untuk bekal hidup. Seba-liknya aku tidak ikhlas kalau uang itu hanya untuk foya-foya, kau habiskan di meja judi."
Tanjir tidak bisa menerima itu.
"Tidak bisa." Tanjir mulai galak. "Aku membutuhkan uang itu."
"Aku juga." desak Jayus.
"Baiklah. Aku ingin mendengar, menurut rencanamu uang itu akan kau perguna-kan untuk apa atau bagaimana?"
"Aku akan pergi jauh." jawab Tanjir. Pak Kampun tersenyum sinis.
"Karena kamu takut pada polisi itu? Jadi uang itu hanya untuk ongkos minggat? Haruskah aku membagikan warisan dengan alasan semacam itu? Tak adakah alasan yang lain yang enak di dengar dan menyejukkan telinga?"
"Aku tidak peduli. Pokoknya aku minta warisan." Tanjir ngotot.
"Aku juga." kata Jayus.
"Dan aku tetap pada pendirianku. Cara membagi warisan itu dengan aturan yang betul. Anak perempuan tidak bisa menerima jumlah yang sama dengan anak lelaki. Karena anak perempuan itu akan menjadi tanggungan suaminya." tambah Tanjir.
Gimpul yang menunduk itu mendongak sedikit dan melirik pada Tanjir.
Gimpul bermaksud menyunggingkan senyum sinis, namun tidak berani. Kalau se-nyum sinisnya sampai ketahuan, bisa-bisa celurit yang berbicara.
"Kalau mau ngotot begitu, biar pengadilan nanti yang memutuskan." jawab pak Kampun enteng.
"Menunggu pengadilan?" tanya Jayus.
"Ya." jawab pak Kampun seperti sekenanya. "Kurasa jika pengadilan yang memu-tuskan pasti adil. Apapun keputusan pengadilan itu akan kulaksanakan dengan sebaik-ba-iknya."
Jasmi manggut-manggut sependapat dengan pendapat bapaknya. Tanjir dan Jayus terpaksa mengumpat di dalam hati. Keduanya resah memikirkan waktu yang akan berla-rut dan terlampau lama. Apalagi polisi sudah membaui perbuatan mereka. Artinya, sece-pat-cepatnya mereka harus segera pergi jauh meninggalkan Tegaldlimo.
Pak Kampun tidak memerlukan jawaban lagi. Pak Kampun beranjak berdiri sam-bil membawa tas yang diduga berisi uang itu. Pak Kampun masuk ke kamar diikuti oleh isterinya.
"Pak, tunggu dulu." teriak Tanjir.
"Aku letih, besok pembicaraan ini dilanjutkan." jawab pak Kampun.
Jayus maupun Tanjir bermaksud memaksakan pembicaraan itu, namun pak Kam-pun sudah keburu menutup pintu dan menguncinya.
Jasmi memandang penuh cemas. Khawatir kalau Jayus dan Tanjir akan kehila-ngan kendali. Namun dugaan Jasmi ternyata salah, Tanjir maupun Jayus tidak menggedor pintu. Mereka ngeloyor pergi ke halaman dan melanjutkan duduk berdua menghangatkan diri di depan api.
Sebenarnyalah keadaan rumah pak Kampun malam itu bagaikan dilingkupi udara yang gerah. Sampai larut Jasmi tidak bisa memejamkan mata. Perilaku Tanjir dan Jayus sungguh mencurigakan. Itu sebabnya Jasmi mondar-mandir seperti seterika.
"Kau tidak tidur Jas? Ini sudah agak malam." tanya suaminya.
"Aku tidak akan tidur malam ini kang, sekalian tirakatan. Aku curiga kang Tanjir dan kang Jayus akan melakukan sesuatu. Aku harus berjaga-jaga. Kau juga kang, kita melekan semalam suntuk." berkata Jasmi.
Gimpul mengangguk.
"Kau benar. Aku akan menemanimu." balas Gimpul.
"Aku punya usul. Kau sebaiknya berjaga di luar saja. Bagaimana?"
Sebenarnya itu gagasan yang sangat bagus. Pucuk dicinta ulam tiba. Bukankah dengan demikian peluang Gimpul untuk beraksi semakin luas?
"Kenapa aku berjaga di luar?" tanya Gimpul.

Rabu, 03 Agustus 2011

Balada Gimpul 5

ratayudha antara Jasmi dengan suaminya? Bisa geger dan akan menjadi santapan tetang-ga.
Salatun harus menimbang kembali sebelum mengambil keputusan.
"Ada apa Tun? Sejak kau ke kuburan kemarin, kau kelihatan murung. Ayo Tun, bicaralah. Kita di rumah ini memang seperti hidup di dalam neraka. Justru karena itu kita harus saling berbagi cerita. Kalau kau punya masalah, ceritakan kepadaku, sebaliknya ka-lau aku ada masalah, aku juga akan berbagi denganmu."
Kalau perbuatan Gimpul itu diceritakan pada isterinya, dijamin akan geger. Se-perti orang yang makan buah simalakama, mau begini salah, mau melakukan itu salah. Dimakan sakit mata, tak dimakan sakit perut. Pilih yang mana?
"Aku tidak apa-apa yu." jawab Salatun datar.
Rupanya Salatun memilih merahasiakan kejadian semalam.
"Ingat pada simbok?" desak Jasmi.
"Ya." jawab Salatun sambil mengangguk.
"Simbok sudah tak ada Tun. Aku tahu kau sangat kehilangan. Tetapi, kalau waktu terus berlalu, kita harus melihat kenyataan simbok memang telah pergi meninggalkan kita selamanya. Jadi tidak ada pilihan lain kecuali harus ikhlas. Mau ikut aku ke tegalan Tun?"
"Mau apa?" Salatun sangat tidak bersemangat.
"Cari daun sembukan. Untuk bikin bothok."
"Malas yu. Aku akan ke kuburan simbok lagi saja."
"Tun," Jasmi iba sekali pada adiknya itu.
"Di sana aku merasa tenang. Di sana aku dekat dengan simbok."
"Baiklah, nanti kita berdua. Setelah aku selesai masak. Atau kau ingin berangkat lebih dulu, nanti kususul. Kembangnya biar aku yang bawa."
"Jangan yu, kita berdua berangkat bersama. Aku menunggu yu Jasmi selesai."
"Kalau begitu, ikut saja ke tegalan ya?"
Salatun menggeleng. Malas.
"Tidak yu. Aku tidak ikut kau ke tegalan. Aku menunggu saja di sini saja."
Jasmi memandangi adiknya.
"Kau ingin hari ini aku masak apa?"
"Terserah yu Jasmi."
"Bagaimana kalau jangan bung? aku akan menyuruh suamiku untuk mencarikan rebung. Bukankah jangan bung kesukaanmu?"
Bung itu singkatan rebung, bambu muda yang bisa dimasak. Banyak orang yang bilang jangan suka makan jangan bung karena akan rai gedek. Bambu kalau dianyam kan jadi gedek? Tetapi bung juga jadi sandangan nama, Bung Karno, Bung Hatta, atau “Ada apa bung?”
“Terserah yu Jasmi." Salatun amat tidak bergairah.
"Baiklah." jawab Jasmi yang langsung ngeloyor pergi.
Salatun ingat semalam. Tanpa dipancing dadanya mengombak gelisah. Salatun merasa risih. Apa yang dilakukan Gimpul padanya benar-benar tidak patut. Salatun yang larut mengimbangi permainan itu juga merasa tidak patut. Pada ujungnya Salatun seperti jijik pada diri sendiri.
"Apa yang harus kulakukan?" Salatun gelisah. "Apakah aku harus diam membiar-kan perbuatan kang Gimpul yang kurang ajar itu? Atau apakah sebaiknya kulaporkan saja pada isterinya? Apakah yang terjadi kalau kulaporkan pada yu Jasmi?, yu Jasmi dan kang Gimpul pasti bertengkar. Suasana di rumah ini akan menjadi semakin kisruh dan semakin usrek. Ah, jadi serba salah aku jadinya. Mau begini salah, mau begitu juga salah. Bagai-mana sebaiknya?"
Beban yang sungguh sangat berat. Salatun mendekap wajah. Kalau sudah demiki-an, Salatun ingat simboknya. Mata Salatun berkaca-kaca.
"Simbok, apakah yang harus kulakukan menghadapi keadaan yang membingung-kan ini? Simbok, tolonglah aku mbok. Bagaimana caranya aku menghindari keadaan ini? Bagaimana caranya mbok?" mata gadis itu mengaca.
Matahari memanjat agak tinggi ketika Tanjir serta Jayus yang telah berubah me-njadi kalong, pulang. Anak lelaki pak Kampun itu makin tidak peduli dengan apapun, ke-cuali mengumbar kegemaran di tempat-tempat orang punya hajat. Gandrung yang pentas di Rogojampi sekalipun pasti didatangi. Kalau sudah turun menari Tanjir bisa lupa diri sebagaimana Jayus jika larut dengan kartu remi atau domino. Semalaman Tanjir dan Jayus tidak pulang, biasanya dibayar dengan tidur ngedhur sehari suntuk untuk kemudian pergi lagi di malam berikutnya.
Pak Kampunlah yang kemudian sering mengelus dada karena jika dua anak lela-kinya itu minta uang selalu seketika dan tidak bisa ditunda.
Tanjir berjalan melintas tidak peduli pada Salatun yang tengah duduk melamun di atas dingklik kayu yang telah lapuk. Namun sejenak kemudian, Jayus yang justru mende-katinya.
"Tun" kata Jayus pelan.
Salatun mendongak.
"Apa?" tanya Salatun agak ketus.
"Kamu punya uang?" tanya Jayus.
Salatun hanya menoleh. Wajahnya beku.
"Ehhh, kamu punya uang apa tidak?" Jayus mendesak.
"Tidak." jawab Salatun tegas.
Jayus memandang Salatun, bukan ke tubuhnya atau ke mukanya tetapi pada an-ting-anting dan kalung yang dikenakannya. Jika anting-anting itu harganya paling hanya tujuh puluh puluh ribu rupiah. Tetapi kalau kalungnya, bisa tiga ratus ribu rupiah atau le-bih, paling tidak ada enam sampai sepuluh gram. Jika diuangkan lumayan. Bisa untuk tambahan modal.
"Kalau begitu bagaimana dengan kalung itu?"
Salatun mencuatkan alis.
"Kenapa dengan kalungku?"
“Aku butuh uang. Aku pinjam."
"Enak saja pinjam kalung. Tidak bisa." Salatun ketus.
"Aku butuh sekali Tun." desak Jayus.
"Kalau pinjam, kau tidak pernah mengembalikan."
"Tun, aku sangat butuh uang untuk modal. Besok pasti kukembalikan. Atau, kau minta aku kembalikan dua kali lipat, kalung yang lebih besar dan gelang kroncong sekali-an?" Jayus merayu.
"Dikembalikan kalau imitasi apa gunanya?"
Salatun membuang muka dan kemudian beranjak pergi. Namun dengan cekatan Jayus memegang lengannya. Salatun menepis.
"Kalungmu aku pinjam." kali ini Jayus berkata agak sangar.
"Kalung dipinjam itu kan maunya kang Jayus" kata Salatun ketus. "Mauku tidak boleh."
Jayus jengkel.
"Gelang yang dulu kau pinjam saja belum kau kembalikan. Ayo, mana gelangku?"
Jayus menyeringai. Matanya tak beranjak dari kalung yang dipakai adiknya. Ingin rasanya Jayus membetot saja kalung itu, seperti yang beberapa malam lalu pernah ia la-kukan terhadap seorang pejalan yang lewat sebelah bendungan Dam Limo.
Pada saat itu maghrib baru saja berlalu. Jayus duduk-duduk di pagar jembatan. Lalu ada seorang wanita berjalan dari arah timur sendirian. Jayus segera menutup wajah dengan sarung seperti film ninja. Dengan cekatan dia menghadang, menodongkan pisau dan membetot kalung yang dipakai orang itu, kemudian lari ke arah utara untuk kemu-dian melenyapkan diri di selokan. Wanita yang dijambretnya itu sebenarnya masih te-tangga sendiri, yang langsung melolong-lolong minta tolong dan bahkan lapor Polisi segala.
Peristiwa penjambretan yang baru untuk pertama kali terjadi di Tegaldlimo yang semula aman-aman saja itu langsung membuat geger, bikin gempar. Segenap penduduk dari Jatirejo sampai Kalipait memperbincangkan. Maklum, peristiwa kecil apapun untuk desa seukuran Tegaldlimo akan menjalar ke mana-mana seiring dengan tiupan angin.
Kalung hasil jambretan itu esok harinya dijual ke toko emas. Hasil penjualan ka-lung itu bisa dijadikan modal untuk duduk bersila membanting kartu, minum ciu dan rokok, sisanya untuk pil koplo.
Mula-mula Jayus menang banyak. Jayus tentu tidak lupa sebagian dari uang itu dipergunakan menyalurkan hobby beratnya, kelonan. Namanya juga uang diperoleh dari cara yang tidak betul, ketika duduk bersila lagi di hari berikutnya nasibnya apes, uangnya ludes tak menyisakan sepeserpun kecuali hanya segala macam sumpah serapah dan ber-bagai gagasan untuk segera mendapatkan uang lagi dengan cara singkat dan cepat. Apa-pun caranya.
Namun, ketika beberapa hari kemudian, setelah masa inkubasi sekitar tiga empat hari berlangsung, Jayus mulai bernanah. Bercak nanah begitu meriah membentuk gambar pulau-pulau di celananya, diiringi rasa nyeri dan perih. Jayus tidak punya sepeserpun uang untuk berobat kecuali segumpal sumpah serapah kepada pelacur yang telah menu-larinya.
Kali ini kalung yang dikenakan Salatun amat menggodanya. Entah bagaimana ca-ranya, kalung adiknya itu harus bisa jadi miliknya dan dengan segera dijadikan uang. De-ngan uang itu Jayus bisa pergi berobat, kalau ada sisanya untuk duduk bersila, atau bisa juga dibalik, uang itu untuk duduk bersila dulu dan hasilnya untuk beli obat.
Kalau ternyata ludes?
O ya, pernah ada saran dari temannya untuk minum sari tumbukan laos dicampur enjet. Menurut temannya, ramuan dengan komposisi seperti itu diyakini bisa menyem-buhkan Jayus dari gonorrheanya. Jayus muntah-muntah sampai tercekik ketika minum ramuan itu, tentu saja, kapur kok di buat jamu.
Setelah sehari berlalu, sakitnya malah menjadi-jadi,
"Berikan kalungmu." ancam Jayus dengan sangar.
Gila. Kali ini bukan pinjam malah memaksa, dengan mata yang melotot segala.
"Cepat, lepas kalungmu" disusul dengan bentakan.
Salatun malas melayani kakaknya yang kumat itu. Salatun bermaksud ngeloyor menyelamatkan diri dari perampokan itu. Tetapi dengan kasar Jayus menangkap tangan-nya dan membetot kalungnya. Kalung itupun putus.
Salatun tidak bisa menguasai diri. Gadis bernasib malang itu menangis. Salatun menangis bukan menangisi kalungnya tetapi oleh perbuatan kakaknya yang tega terhadap dirinya.
Kalau kalung itu sih sebenarnya, imitasi.
Jayus tak peduli Salatun, Jayus ngeloyor masuk rumah. Siangnya Jayus merah pa-dam manakala sudah capek-capek bersepeda sampai di Purwoharjo, nafasnya kreng-gosan karena mengayuh menempuh jarak dua-puluhan kilometer yang adakalanya harus dengan pringisan karena sakitnya, sesampai di tempat tujuan harus merasakan malu luar biasa, wajahnya menebal melebihi tebal dinding, di saat pemilik toko menolak kalung itu karena imitasi.
Jayus marah sekali, tetapi mau marah kepada siapa? Marah kepada Salatun yang tidak mau jujur soal kalung yang ternyata hanya rongsokan itu?
"Bangsat" umpat Jayus kasar.
Setiap kali kayuhan pedalnya sakitnya luar biasa. Untuk setiap jarak seratus me-ter, Jayus pasti menyempatkan mengumpat sekali.
“Dancuk.” serapahnya kasar.
Dengan demikian bisalah dihitung entah berapa kali Jayus mengumpat di sepa-njang perjalanan pulang ke Tegaldlimo dengan kondisi jalan yang gronjalan.
"Kalungmu mana?" tanya Jasmi yang melihat adiknya tidak memakai kalung lagi.
"Dibetot Jayus." jawab Salatun.
Jasmi kaget.
"Kapan?" tanya Jasmi.
"Tadi " jawab adiknya.
Jasmi hanya bisa menelan getir. Sudah seperti itukah keadaan rumah di mana sau-dara telah menjadi perampok atas sedulur sendiri.
"Berapa gram kalungmu?" tanya Jasmi selanjutnya.
"Imitasi" jawab Salatun.
"Ha? Imitasi?" Jasmi kaget.
Jasmi tertegun sejenak dan kemudian tidak kuasa menahan geli. Seketika tawanya berderai. Salatun yang semula mbesengut ikut tersenyum, bahkan ikut larut dengan tawa-nya yang berderai. Jasmi sibuk membayangkan betapa akan merah padam wajah kakak-nya itu di saat menjual kalung yang ternyata imitasi itu.
"Tadi aku lihat kang Jayus nggenjot sepeda." kata Jasmi.
"Ke Purwoharjo." jawab adiknya.
"Untuk menjual kalung itu?" Jasmi geli.
"Ada urusan apa lagi kalau bukan itu. Makin hari kang Jayus makin ketagihan sa-ja. Dulu gelangku diminta. Bahkan aku curiga penjambretan yang menimpa yu Siti Su-milah di bendungan Dam Limo pelakunya kang Jayus juga."
Tentu Jasmi amat kaget. Peristiwa penjambretan yang terjadi malam itu memang menggegerkan. Jasmi juga ikut nanggap yu Sumilah yang menjadi korban penjambretan itu. Siapa mengira pelakunya adalah kakaknya sendiri.
"Apa benar kang Jayus Tun?" desaknya.
"Malam itu aku lihat kang Jayus berlepotan lumpur. Coba Kamu pikir, habis me-lakukan apa dia. Menurut yu Sumilah saat itu penjambretnya lari ke utara dan lenyap di sawah. Kemudian aku melihat kang Jayus pulang lewat sawah di belakang itu dengan berlepotan lumpur. Apa hubungannya?”
"Astaghfirullah Aladzim." Jasmi mendesis.
Kalau dipikir, kepulangan Jasmi menuruti kehendak Tanjir dan Jayus ternyata merupakan langkah keliru. Suasana di rumahnya, rumah yang semula ditempatinya di Te-galdlimo kidul jauh lebih sejuk dari suasana sekarang yang penuh dengan berbagai masa-lah. Semua penghuni rumah tidak punya tatanan lagi, semuanya berbuat semaunya sen-diri.
Akan halnya pak Kampun yang makin jengkel, tidak peduli lagi dengan apapun yang terjadi, tidak peduli bagaimana dengan anak-anaknya.
Jasmi yang kemudian merasa seperti sapi perah karena harus ngladeni kedua ka-kaknya yang keblinger itu. Pernah pada suatu hari Jasmi memasak seadanya, maksudnya hanya untuk dirinya dan suaminya. Namun nasi belum matang sudah dibuat jungkir balik oleh Tanjir dan Jayus yang dokoh lekoh sekali dalam mengisi perut.
Sayur bening yang tak seberapa ludes tanpa sisa.
Situasi tambah menyebalkan karena Tanjir dan Jayus dan bahkan juga suaminya menganggap siang hari adalah waktu untuk tidur. Bangun hanyalah untuk mengisi perut. Begitu seterusnya.
Seperti pada siang itu, Jayus yang marah-marah karena tertipu oleh kalung imitasi mbarang-amuk dengan mengobrak-abrik dapur. Mana Jasmi tahan menghadapi keadaan yang seperti itu.
Bagaimana dengan pak Kampun? Pak Kampun yang sebal di rumah adakalanya memilih mengajak isterinya untuk menginap di losmen yang ada di kota Jajag. Di sana pak Kampun merasa tenang dan tidak terganggu. Aneh juga dengan pak Kampun, seu-mur-umur orang yang lugu seperti pak Kampun itu belum pernah berurusan dengan hotel, sekarang sebentar-sebentar check in ke Jajag atau malah pantai Grajagan.
Malam berikutnya adalah malam ketika pak Kampun dan Salehak tidak ada. Se-jak siang pak Kampun serimbit telah pergi ke Grajagan, di sana ada hotel kelas dua puluh lima ribuan yang bisa dipergunakan berasyik-masuk sambil menikmati debur gemuruh ombak laut selatan. Sejak sore pula Gimpul pamit pergi. Jasmi mengijinkan karena Gim-pul pamit menemui pak Ngadimin untuk meminta pekerjaan di perusahaan tegel milik-nya. Kalau Gimpul mau bekerja di perusahaan tegel itu meski hanya sebagai tenaga ka-sar, itu sudah perkembangan bagus, dari pada nganggur.
Namun sebenarnya, ke mana Gimpul? Salatun telah berketetapan hati tidak akan membuka jendela kalau Gimpul mengetuknya. Salatun berketetapan tak akan mengulangi kesalahan yang telah diperbuatnya. Peristiwa di malam sebelumnya tak boleh terulang lagi. Itulah sebabnya jendela dikuncinya dengan rapat, bahkan diikat dengan kawat. Pintu dikunci dan masih ditambah dengan palang kayu yang kuat. Pendek kata Gimpul tidak akan bisa masuk ke kamar itu.
Akan tetapi betapa terperanjatnya Salatun melihat Gimpul nongol dari kolong tempat tidurnya.
"Sssssst” Gimpul menempelkan telunjuk ke bibir, isyarat agar Salatun tidak ber-suara.
Rupanya Gimpul yang berpamitan ke rumah pak Ngadimin itu sekedar alasan be-laka. Gimpul menyelinap melalui pintu samping dan beberapa saat lamanya bertahan ber-sembunyi di kolong tempat tidur iparnya. Baru nongol saat merasa semua aman.
Di luar langit digerayangi mendung tebal. Seperti kemarin, petir mulai berlaga. Kilat muncrat memuntahkan cahaya gemerlap, menjadi saksi atas semua peristiwa yang bakal terjadi.
"Kau, bersembunyi di bawah tempat tidurku?" Salatun benar-benar tercekat.
Salatun panik. Namun dengan segera Gimpul meraih dan memeluknya agar Sa-latun tenang dan tidak panik.
Malam itu barangkali akan menjadi malam yang tidak bisa dilupakan Salatun. Se-perti malam sebelumnya, hujan deras turun lagi. Gimpul sungguh merasa terbantu oleh keadaan itu.
"Kau mau apa?" Salatun gugup.
"Jasmi lelap. Aku gunakan kesempatan ini untuk menemanimu lagi. Kemarin hu-jan deras, sekarang hujan deras. Keadaan benar-benar bersahabat dengan kita. Aku te-mani kau untuk menagih janjimu."
Ha? Menagih janji? Salatun gemetar. Salatun pucat. Harusnya Salatun berteriak, tetapi Salatun bodoh sekali. Ia tak melakukan itu. Keadaan serba salah yang dihadapinya menuntunnya mengambil pilihan yang salah pula.
"Jangan kang. Aku takut." Salatun amat cemas. "Kalau yu Jasmi sampai tahu, bisa geger.”
Gimpul hanya tertawa. Gimpul mana peduli.
“Bapak dan Ibu tirimu tidak ada. Tanjir dan Jayus sudah minggat entah ke mana, dan mbakyumu pulas karena pengaruh obat."
"Obat?" Salatun kaget.
Gimpul tak perlu bercerita tentang obat apa yang diminum oleh Jasmi. Kebetulan tadi Jasmi mengeluh sakit kepala, Gimpul memberinya pil koplo seperempat tablet. Ten-tu saja Jasmi jadi koplo. Dari mana Gimpul dapat pil koplo? Ahhh gampang, Pil Koplo kan sudah tersebar di mana-mana.
“Terus, kau mau apa?" Salatun masih dengan kecemasannya.
“Melanjutkan yang kita lakukan semalam." pendek saja kata Gimpul.
Salatun tambah panik menjadi-jadi.
"Aku mencintaimu Tun." Gimpul mulai menyerang dengan jurus rayuan maut.
Untuk hal yang demikian itu, Gimpul telah mengoleksi berbagai jurus maut. Ting-gal comot sesuai kebutuhan.
"Sekarang tahulah aku, bahwa sebenarnya kaulah yang aku cintai Tun, bukan ka-kakmu." yang ini jurus gombal.
"Jangan kang." Salatun mencoba mencegah.
"Aku menginginkan kamu Tun, Ayolah. Aku akan mengajarimu."
Walah-walaah, Gimpul menganggap hal itu sebagai sebuah pelajaran? Pelajaran apa? Di sekolah manapun ilmu macam itu rasanya tidak pernah diajarkan.
Suasana tambah gawat. Salatun bingung.
"Jangan kang Gimpul. Kalau aku sampai hamil bagaimana.?"
Hamil di luar pernikahan memang layak dicemaskan. Namun Gimpul mengang-gap enteng hal itu.
"Aku bertanggung jawab."
Enak saja Gimpul dengan jawaban itu. Bertanggung-jawab maksudnya kalau ada apa-apanya bertanggung-menjawab. Bertanggung-menjawab dan tanggung jawab jelas berbeda arti.
"Bertanggung-jawab bagaimana? kau kan suami yu Jasmi." Salatun mendesak.
"Kalau sampai kau hamil, maka aku akan ceraikan kakakmu dan aku mengawini-mu. Aku akan mengentaskanmu dari lubang penderitaan ini Tun, atau kita bisa minggat sejauh-jauhnya, minggat ke tempat yang tidak akan bisa dijangkau orang lain, di mana di tempat itu kita bisa hidup amat bahagia. Mau kan?"
Sayang, Salatun seperti orang yang kekurangan waktu untuk mencerna kalimat itu. Kalau saja Salatun mau merenung sejenak saja, betapa akan kelihatan jelas gombal-nya.
"Aku tidak mau merusak kebahagiaan rumah tangga kakakku."
Salatun kemudian duduk di pembaringan. Gimpul memeluknya, sama sekali tidak terlintas bayangan Jasmi di benaknya.
"Aku hanya menagih janjimu Tun. Aku tidak akan menagih kalau kau tidak berja-nji." desak Gimpul.
"Hanya berciuman. Jangan lebih ya kang,"
Namun ciuman adalah awal dari segalanya. Ciuman menggiring nafsu untuk me-njamah tahapan berikutnya. Sehingga Salatun sendiri yang kemudian menghendaki. Apa-lah artinya Salatun, seorang gadis ingusan yang tidak tahu apa-apa di hadapan Gimpul, laki-laki yang telah banyak mengenyam asam garam. Semuanya kemudian berakhir de-ngan senyum puas di sudut bibirnya, senyum yang agak ditelan.
Salatun yang kemudian digulung sesal. Salatun menangis. Sayang hujan deras menutupi tangis gadis itu.

***


BARA TANAH WARISAN
Gimpul amat gugup. Sebisa-bisanya Gimpul berusaha menenangkan Salatun yang sesenggukan. Namun air mata yang mengalir bukan sungai yang bisa dibendung. Salatun menangis sejadi-jadinya.
"Sudahlah jangan menangis. Tidak ada yang perlu ditangisi. Semuanya sudah ter-jadi." saat apa yang diinginkan telah diperoleh, begitu gampangnya Gimpul berkata se-perti itu.
"Mengapa kau lakukan itu padaku kang Gimpul? Mengapa?"
Nasi telah menjadi bubur. Salatun mengutuk dirinya, namun segalanya telah terla-njur.
"Kau tega kang Gimpul." Salatun terguguk.
Gimpul membelai rambutnya.
"Karena kita saling menghendaki Tun dan karena kita saling mencintai, juga kare-na memang sudah menjadi takdir kita."
Alasan apa pula itu, Gimpul beranggapan apa yang terjadi itu karena takdir? Ka-rena sudah dikehendaki oleh garis hidup?
"Kau harus mengawiniku kang Gimpul. Kau harus bertanggung jawab atas perbu-atanmu."
Gimpul bingung, namun segera disediakannya sebuah jawaban.
"Oo, tentu Tun, aku tentu akan mengawinimu. Aku pasti bertanggung-jawab."
Gimpul akan bertanggung jawab padahal ia telah punya isteri, dan isteri Gimpul itu adalah kakak Salatun. Bagaimana model dari tanggung jawab itu? Menceraikan Jasmi agar bisa mengawini Salatun? Apakah hal itu mungkin? Atau tanggung jawab dalam ben-tuk lain, yaitu kalau sampai Salatun hamil Gimpul bertanggung-jawab untuk menggugur-kan bayinya. Begitu?
"Kita harus membicarakan sekarang kang. Kau harus menyampaikan kepada yu Jasmi sekarang juga. Bapak juga harus diberitahu."
Gimpul benar-benar membaca situasi gawat, situasi yang berbahaya. Kalau sam-pai Salatun melapor pada Mbakyunya, waaaah, benar-benar akan terjadi perang. Hal itu harus dicegah. Tidak boleh terjadi. Enak yang dirasa hanya beberapa menit, apakah Gim-pul harus menanggung beban yang seberat Gunung Raung?
Jangan ngangsi.
"Jangan sekarang," Gimpul berbisik. "Ini bukan saat yang tepat untuk membica-rakan itu. Kita tunggu saja, apakah kau hamil atau tidak, kalau tidak hamil, tak perlu harus ada tanggung-jawab to? Kalau kau hamil, barulah kita bicarakan."
Nah kan?
Itulah Gimpul, sejenis lelaki berkarakter bajing loncat, yang dengan seenak sen-diri dan tanpa pertimbangan, serta tidak menggunakan moral jenis apapun, dengan sangat tega menodai adik ipar yang mestinya harus dianggap adik sendiri. Ketika Salatun me-nuntutnya untuk bertanggung jawab, Gimpul berusaha mengelak menghindarinya. Yang enak-enak Gimpul mau, yang tidak enak tunggu dulu. Sayangnya Gimpul terlahir dengan membawa jenis kelamin lelaki, coba kalau perempuan, Gimpul tentu hamil kleleran.
"Sudah, jangan menangis. Aku akan kembali ke kamarku."
Sesudah kebutuhannya terpenuhi, enteng Gimpul berpamitan.
"Jangan menangis. Nanti kedengaran Mbakyumu."
Apa yang terjadi itu memang harus menyebabkan Salatun membulatkan tekadnya minta tanggung-jawab. Enak saja Gimpul menyengat seperti tawon, setelah ngentup ter-bang begitu saja. Lha kalau yang disengat lalu bengkak bagaimana? Apalagi ini bukan ta-won, ini soal Gimpul yang sudah ngentup dirinya.
"Pokoknya kau harus bertanggung jawab kang Gimpul” Salatun terus mendesak.
Gimpul yang akan pergi itu digondelinya.
"Aku tentu akan mengawinimu Tun. Seperti yang kujanjikan, kita akan menjadi suami isteri. Tetapi kita tidak boleh bodoh. Jika mempersoalkan hal ini sekarang, jelas sangat bodoh. Bisa geger nantinya. Kita harus menunggu saat yang tepat Tun."
Gimpul tidak sabar lagi, rasanya ingin segera meninggalkan tempat itu, semakin cepat makin baik. Akan tetapi Salatun tetap memegangi tangannya. Salatun tidak membi-arkan Gimpul pergi.
Kok enak.
Salatun yang menangis itu menyebabkan Gimpul cemas. Kalau sampai suara tangis itu kedengaran Jasmi, kan gawat.
Malang tidak bisa ditolak, untung tidak bisa diraih. Rupanya pil koplo yang dimi-numkan kepada Jasmi tidak berpengaruh sama sekali. Jasmi entah mengapa merasa pe-rutnya mendadak amat mual dan muntah-muntah. Dengan sendirinya pil koplo yang baru saja hancur di lambung ikut terbuang keluar. Hanya sebagian kecil yang sempat masuk ke usus dan membuat kepalanya pusing.
Jasmi yang kebelet pipis merangkak keluar, bermaksud ke jeding di belakang. Bi-asanya Jasmi berani pergi ke jeding sendiri. Namun karena hujan dan suasana gelap, Jasmi bermaksud minta kepada Salatun mengantarnya. Pada saat itulah Jasmi mendengar lamat-lamat suara Salatun menangis, di sela suara gemuruh hujan yang terus diguyurkan dari langit yang robek.
"Salatun, buka pintunya. Kau menangis ada apa?" bertanya Jasmi.
Salatun kaget dan seketika pucat.
Demikian juga dengan Gimpul bagaikan disengat kalajengking, menjadi bingung. Gimpul bergegas berusaha membuka jendela, tetapi malang, karena gugupnya, Gimpul yang bermaksud meloloskan diri itu malah terjerembab. Suara itu terdengar oleh Jasmi di luar.
"Tun, ada apa kamu menangis? Suara apa itu?"
Salatun gugup, Gimpul tambah gugup.
"Mati aku, bagaimana ini?" Gimpul berpanik-panik.
Namun bukan Gimpul namanya kalau tak melihat peluang. Gimpul segera me-rangkak dan melenyapkan diri di kolong tempat tidur.
Salatun kebingungan, bahkan untuk menata degup jantungnya sendiri Salatun se-perti tidak tahu bagaimana caranya.
"Tun, buka pintunya." suara Jasmi kembali terdengar.
Salatun membuka pintu. Tangisnya dihapus dengan lengannya. Jasmi yang meme-gang lampu teplok memandangi wajah adik dan kemudian melongok ke dalam kamar. Dengan cahaya lampu teplok itu Jasmi melakukan pemeriksaan.
Sayang sekali Jasmi agak pusing, sayang sekali Jasmi tidak melongok ke kolong.
"Kau ingat simbok lagi?" Jasmi bertanya.
Salatun menunduk tidak menjawab.
Jasmi menepuk-nepuk pundak adiknya.
"Sudahlah, jangan terlalu diingat, kasihan simbok yang perjalanannya ke alam ba-qa malah tersendat." hiburnya.
"Aku,...." suara Salatun terdengar serak.
Salatun sudah berketetapan untuk menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya itu.
"Sudah, jangan bersedih. Kepergian simbok sudah menjadi kehendak dari Tuhan Yang Mahaesa. Kita harus ikhlas menerima kenyataan itu."
Salatun mendongak, memandang kakaknya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Salatun ingin sekali berteriak keras, meneriakkan perbuatan Gimpul yang telah me-ngurang-ajari dirinya. Namun suara yang mestinya akan terlontar lantang itu tertelan, te-rasa kaku di tenggorokan. Seperti gumpalan bakso yang terjebak di lorong itu, membuat leher seperti tercekik.
"Aku mau ke jeding Tun, temani aku." pinta Jasmi pada adiknya.
Jasmi lupa. Mestinya Jasmi menanyakan suara apa yang kedengaran gaduh tadi. Kalau saja Jasmi menanyakan itu, mungkin akan menjadi kunci yang membuka katub-ka-tub emosi adiknya yang macet.
Dengan masih bingung, Salatun mengantar kakaknya ke jeding yang letaknya ter-pisah di belakang. Harus menggunakan payung untuk sampai ke jeding itu. Namun ka-rena tidak ada payung, Jasmi yang sudah tidak betah langsung jongkok di depan pintu.
Kesempatan yang ada itu dimanfaatkan oleh Gimpul untuk menyelinap keluar da-ri kamar yang tiba-tiba penuh dengan aroma ketegangan itu. Merasa berhasil meloloskan diri Gimpulpun lega. Tetapi belumlah lega sepenuhnya karena Gimpul cemas seandainya Salatun menceritakan apa yang terjadi.
Jasmi kembali ke kamarnya membaringkan diri. Sejenak kemudian terdengar pintu yang diketuk dan panggilan suaminya. Jasmi segera membuka pintu dan menyam-but kepulangan suaminya dengan sebuah pelukan.
Akan halnya Salatun, malangnya gadis itu. Dengan mata berkaca-kaca, Salatun si-buk memperhatikan bercak-bercak yang ada di sepreinya. Salatun tidak kuat menahan diri. Gadis itu meringkuk di sudut pembaringan sambil mendekap wajah. Dari sela-sela jemarinya tetes-tetes air matanya runtuh ikut menodai seprei.
Namun naifnya Salatun, manakala apa yang terjadi itu terulang kembali keesokan harinya. Jika malam pertama diwarnai dengan tangis, maka tak ada tangis lagi untuk ma-lam kedua, ke tiga dan seterusnya. Hari itu setangkai kembang melati telah layu. Kum-bang kurang ajar telah menyengat dan meninggalkan entupnya. Di setiap kesempatan dalam kesempitan Gimpul selalu menyelinap serta membagikan tumpahan nafsunya pada Salatun.
Sungguh perbuatan yang ceroboh, karena apa yang mereka lakukan tanpa perlin-dungan, hal yang mungkin saja menyebabkan seseorang menjadi hamil.
Pada sebuah malam yang lain, Gimpul kembali menyelinap ke kamar adik ipar-nya.
"Kupikir kau tak menemuiku kang."
Nah lihatlah, telah ada perubahan bukan? Salatun malam ini berbeda sekali de-ngan Salatun beberapa malam yang lalu. Salatun bukan lagi Salatun yang lugu. Salatun yang sekarang sudah bisa berfikir bengkok. Betapa besar andil yang diberikan Gimpul untuk membentuk Salatun yang baru.
"Kalau aku sudah berjanji aku akan menyelinap, aku pasti menyelinap. Masalah-nya, aku harus menunggu mbakyumu pulas dulu." Gimpul berusaha memberikan alasan.
Salatun merajuk. "Rasanya hati ini sakit."
Sakit? Kenapa? Soal apa lagi yang tumbuh dan berkembang di dada Salatun itu? Biasanya, sebuah situasi selalu membutuhkan solusi. Salatun punya masalah, menuntut Gimpul untuk memberikan jalan keluarnya. Kalau solusi belum didapat atau karena satu dan lain hal tak mungkin didapat, akan menyebabkan isi dada terasa nyeri seperti yang dialami Salatun saat itu.
"Sakit kenapa?" bisik Gimpul.
"Telah kuserahkan segala yang kumiliki kepada kang Gimpul. Tetapi kau suami kakakku. Ini menyakitkan sekali."
Rupanya dengan kondisinya yang sekarang, Salatun tak ingin mendapat jatah ha-nya di saat Gimpul punya waktu. Salatun menginginkan semuanya. Ingin menjadi isteri sepenuhnya, dengan demikian tak perlu kucing-kucingan lagi, tidak perlu sembunyi-sem-bunyi.
Gimpul terpaksa harus meredam.
"Percayalah Tun, kelak akan tiba saatnya, kita akan hidup bersama. Kelak aku pasti akan menyingkirkan kakakmu, dan menggantikannya dengan menempatkan kau di sebelahku. Sebuah tempat yang amat terhormat."
Semakin tidak keruan saja pikiran Gimpul itu. Kecemasan yang pernah disampai-kan mbok Kampun dulu ternyata benar adanya. Kehadiran Gimpul ke dalam rumah itu akan menjadi sumber kekacauan. Akan rusak semua.
Pikiran Salatun semakin bengkok pula.
"Kapan itu kang?"
Salatun benar-benar telah teracuni. Gagasan Gimpul yang bermaksud menggusur Jasmi dan menempatkan dirinya menduduki jabatan isteri, benar-benar berubah menjadi obsesi. Apa salahnya kalau impian diubah menjadi kenyataan?
Namun di samping mengobral janji Gimpul juga pintar mengulurnya. Dijereng-jereng seperti permen karet yang bisa molor ke sana molor ke sini, sesuai kebutuhan.
"Tak mungkin sekarang Tun. Kita harus mencari waktu yang tepat dan sebaik-baiknya. Kita tidak boleh sembarangan. Kita harus menunggu saat yang pas, dengan per-hitungan yang cermat."
"Lantas rencana kang Gimpul?"
"Rencana kita nanti adalah kita minggat. Minggat sejauh-jauhnya, ke tempat yang tidak mungkin didatangi keluargamu. Di sana kita akan bahagia untuk selamanya. Tanpa ada yang mengusik dan mengganggu kita."
Itulah angan-angan yang ditaburkan dengan begitu indah. Seolah angan-angan itu bila bisa diujutkan, maka selesai segalanya. Padahal, untuk semua itu butuh biaya bukan?
"Tidak adakah cara lain yang lebih baik dari cara itu kang Gimpul?"
Salatun rupanya cemas membayangkan minggat, yang artinya harus berpisah dari orang tua dan saudara-saudaranya.
"Cara apa?" tanya Gimpul.
Memang tidak ada cara lain selain minggat. Meminta pada Jasmi agar mengi-khlaskan suaminya mengawini adiknya merupakan hal yang mustahil. Bagi Gimpul sih, andaikata kakak beradik itu bersedia dimadu, sungguh amat indah dan bagus. Tinggal menggilir dan membuat jadwal.
"Kalau saja aku tidak perlu minggat meninggalkan keluargaku, dan aku tidak perlu bermusuhan dengan yu Jasmi." Salatun berandai-andai.
“Tidak mungkin Tun. Kita tidak mungkin bisa bersatu dengan cara itu. Satu-satu-nya cara hanyalah Kita pergi sejauh-jauhnya. Mungkin ke Sabang atau Merauke. Di sana kita bisa berkata lantang peduli setan dengan kakak-kakakmu, bahkan peduli setan de-ngan Jasmi dan bahkan ayahmu. Di tempat yang baru nanti, kita hidup kecukupan dan kaya-raya, apa tidak enak?"
Gimpul menerawang mengikuti angan-angannya, Salatun mengekor di belakang-nya.
"Mengenai kakakmu? Perempuan mana yang ikhlas suaminya direbut perempuan lain meski perempuan itu adalah adiknya." lanjut Gimpul.
"Untuk bisa kaya butuh kerja keras kang." kata Salatun.
Ini dia. Memang ke sana sebenarnya Gimpul bermaksud menggiring persoalan. Ji-ka Salatun berada dalam pengaruh dan genggamannya, mengapa tidak dimanfaatkan.
Gimpul berbisik,
"Bukankah bapakmu akan menjual sawah? Bukankah kau nanti akan mendapat-kan hakmu? Semuanya itu, bisa kita gunakan sebagai modal Tun."
Salatun yang lugu, benar benar telah jatuh ke dalam pengaruh Gimpul. Salatun benar-benar tidak mampu menangkap bau busuk di balik kalimat yang dirangkai begitu indah itu.
"Segala sesuatu memang butuh pengorbanan. Kau percaya kan?" Gimpul semakin mempertajam, menanam pengaruh.
"Ya." jawab Salatun.
"Seperti kalau kita ingin hidup bersama, kita ingin kaya, juga butuh pengorbanan. Kau sependapat?"
Gimpul terus menggiring, seperti layaknya pemain bola yang berusaha membobol gawang lawan. Soal gawang Salatun beberapa kali kebobolan. Terlalu gampang menggi-ring bola itu bagi Gimpul.
"Kau sependapat dengan yang kukatakan?"
"Ya." jawab Salatun.
"Pada saat yang tepat nanti, kita minggat." berkata Gimpul.
"Kapan itu kang?" tanya Salatun.
"Pada saat tanah sawah yang dijual itu laku dan telah menjadi duit. Saat itu kita minggat."
Ada desir serasa merambati permukaan hati anak bungsu pak Kampun itu. Butuh sejenak waktu untuk menghapusnya.
"Dengan membawa lari uang itu?"
"Bagaimana kalau ya?"
Sebuah pemecahan yang menarik. Soal bagaimana dengan Tanjir dan Jayus, Sala-tun selama ini sudah amat sebel dengan kedua kakak lelakinya itu. Jadi apa salahnya ka-lau dibalas. Peduli setan dengan kang Tanjir dan kang Jayus, ora dulur-duluran. Kalau sawah nanti sudah laku, uang hasil penjualan itu dicuri, kemudian minggat sejauh-jauh-nya. Bisa apa Tanjir dan Jayus. Lantas bagaimana dengan pak Kampun? Ahhh, persetan pula dengan pak Kampun yang egois dan tidak tahu diri itu. Bukankah pak Kampun ter-lampau larut dengan mainan barunya yang cantik jelita itu. Pada kenyataannya pak Kam-pun tidak memikirkan anak bungsunya, jadi untuk apa Salatun peduli?
Dengan amat sukses Gimpul membentuk pola pikir yang demikian itu.
"Aku sedang memikirkannya. Tetapi berjanjilah kepadaku kang dengan disaksi-kan yang berada di atas."
Nampaknya Salatun masih menyimpan secuil keraguan.
"Aku harus berjanji apa Tun?"
"Kau tak akan meninggalkan aku. Kau akan mengawiniku, mengajakku kemana-pun kau nantinya pergi."
"Tentu Tun. Tentu. Sumpah demi Allah" Gimpul tidak perlu berfikir terlampau lama untuk bersumpah atau berjanji.
Sumpah atau berjanji itu mudah, soal menepati adalah soal lain. Ada banyak o-rang yang sebenarnya konyol karena berfikir janji harus ditepati. Janji boleh-boleh saja ditepati, tetapi pada suatu kondisi nanti, janji itu untuk diingkari. Percayalah.
Gimpul dan Salatun yang kelonan itu tiba-tiba diam karena lamat-lamat terdengar suara pintu yang dibuka di kejauhan.
"Ada yang membuka pintu. Nampaknya dari kamarmu. Jangan jangan yu Jasmi tahu kalau kau berada di sini?" Salatun cemas.
"Tidak, ia tidak tahu kalau aku menyelinap ke sini." jawab Gimpul.
"Cepat keluar kang." Salatun gelisah.
"Aku akan bersembunyi di bawah amben."
"Jangan, nanti kalau yu Jasmi melongok bagaimana?"
Kemudian terdengar suara langkah yang diseret.
"Tun... Salatun." Salatun gugup.
Apa yang terjadi itu seperti pengulangan apa yang dulu pernah terjadi.
"Kang, keluarlah. Berbahaya kalau sampai yu Jasmi tahu kau berada di sini."
"Tun, buka pintunya Tun." Salatun tak segera membuka pintu untuk memberi ke-sempatan kepada Gimpul keluar dari jendela.
Salatun membuka pintu dengan perasaan tegang. Jasmi langsung nyelonong ma-suk.
"Ada apa yu?" Salatun gugup.
"Aku mau tidur denganmu saja."
"Lho, kenapa?"
"Suamiku belum kembali entah ke mana. Tadi aku mimpi buruk dan rasanya nge-ri sekali. Temani aku ya Tun."
"Baik." jawab Salatun agak gugup.
"Tempat tidurmu kok acak-acakan sekali?"
"Iya." jawab Salatun pendek.
Jasmi tertawa. "Mengapa saja kamu?"
"Aku tidak melakukan apa-apa kok yu. Sungguh, sumpah."
Salatun menjadi gugup dan merasa harus mengeluarkan sumpah untuk meyakin-kan kakaknya. Justru pakai sumpah-sumpah segala itu seharusnya Jasmi merasa curiga.
"Aku ingat simbok. Hanya itu." kata Salatun selanjutnya.
"Baunya agak aneh."
Gawat. Jasmi ternyata punya hidung yang peka. Sebuah bau yang amat khas, bau yang amat dikenalinya. Tetapi bau apa ya?
"Sudah beberapa hari ini aku tidak menjemur kasur, baunya ya seperti itu. Wangi ya?" bisa juga Salatun bercanda.
"Agak pesing," Jasmi menimpali sambil tertawa.
"Kemarin aku ngompol yu, tadi siang mau menjemur kasur mendung terus. Aku matikan lampu ya yu."
Salatun yang cemas Jasmi banyak melihat kejanggalan di kamar itu segera meni-up lampu ublik yang melekat di dinding. Jasmi yang tidak terbiasa tidur di kegelapan se-ketika kebingungan.
"Lho Tun, jangan dimatikan." cegah Jasmi tetapi terlambat.
"Supaya bisa tidur. Jika ada nyala lampu, mataku ikut ikutan menyala. Kalau ge-lap baru bisa tidur."
"Aku malah tak bisa tidur. Rasanya tidak bisa bernafas. Nyalakan lagi Tun."
"Ahhhh, kau ini ngrusuhi saja. Kalau mau terang ya tidur di kamarmu sana saja."
Salatun ngotot tidak mau menyalakan lagi lampu ubliknya. Terpaksa Jasmi yang mengalah. Jasmi terpaksa harus keluar dari kamar adiknya itu. Baru di tengah pintu tiba-tiba Jasmi merasakan mual yang akhir-akhir ini dialaminya mengganggu lagi.
"Huuukkkk." Jasmi mau muntah.
Salatun kaget.
"Yu, kau kenapa?" Salatun bertanya.
"Masuk angin yu?"
Jasmi berpegangan daun pintu. Salatun segera membantunya memapah ke kamar-nya.
"Kau kenapa yu, sakit?" tanya Salatun.
"Aku hamil." bisik Jasmi.
Salatun terlonjak. Jawaban itu membuat Salatun menggigil.
Jasmi hamil? Seketika keringat dingin membasahi punggung dan telapak tangan-nya. Salatun tegang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bersalah dan gelisah di hati-nya karena telah tega berkhianat terhadap kakaknya sendiri. Jasmi hamil, di belakang Jasmi Salatun sibuk berbagi birahi dengan kakak iparnya. Apakah tidak keterlaluan na-manya, jika Salatun dan Gimpul meneruskan rencana minggat meninggalkan Jasmi yang sedang hamil? Salatun duduk di bibir pembaringan. Dengan lembut Salatun memijiti lengan kakaknya. Untunglah lampu ublik di kamar itu menyala redup saja. Kalau lampu itu menyala terang, akan terlihat betapa aneh ekspresi wajah Salatun itu.
"Sudah berapa bulan yu?" tanya Salatun.
"Dua bulan." jawab Salatun pendek.
"Kang Gimpul sudah kau beritahu?"
"Belum." jawab Jasmi.
"Kenapa yu?" desak Salatun.
"Entahlah bagaimana sebenarnya perasaanku ini Tun. Aku tidak tahu apakah aku sedang merasa bahagia atau cemas." berkata Jasmi, nadanya datar.
Salatun heran.
Jasmi melanjutkan, "Kalau aku punya anak, pada kenyataannya kang Gimpul se-perti itu. Kang Gimpul belum punya pekerjaan."
Jasmi menatap langit-langit ruang dengan tatapan kosong, seperti tidak bergairah. Salatun termangu. Salatun kemudian menunduk. Rasa bersalahnya kian membuncah. Ji-ka Salatun tetap melanjutkan rencananya dengan Gimpul, dosa macam apa yang bakal di-pikulnya. Jasmi terangsang untuk muntah lagi. Salatun memijiti lehernya lengkap dengan segala kepanikan. Rasanya Salatun tidak tahan dan ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk membongkar segala beban yang ada, namun mulutnya terkunci.
Lehernya serasa kelu.
Setelah Jasmi tertidur Salatun kembali ke kamarnya. Gimpul kembali menyelinap ke sana. Dengan segera Gimpul melihat perubahan sikap yang terjadi pada Salatun.
"Ada apa?" tanya Gimpul.
"Yu Jasmi hamil." jawab Salatun pendek.
Gimpul kaget. "Apa kau bilang?" bisiknya.
"Yu Jasmi hamil." Gimpul menggigil.
Jasmi hamil, ternyata itu bukan berita yang membuatnya senang tetapi malah ke-takutan. Hamil itu apa artinya? Hamil itu persiapan seorang wanita untuk menjadi Ibu, Hamil itu persiapan seorang lelaki untuk menjadi ayah. Harus siap menyongsong kehadi-ran makhluk baru bernama bayi. Padahal pada makhluk bernama bayi, Gimpul ngeri se-kali. Takut pada tanggung jawab untuk membesarkannya, takut disebut bapak dan seba-gainya. Gimpul tidak habis mengerti, mengapa banyak sekali suami yang mengaku baha-gia saat mendengar isteri membisikkan untuk pertama kali warta kehamilannya.
Agak lama Gimpul memandangi Salatun.
"Yu Jasmi tadi mual-mual. Yu Jasmi mengatakan kalau itu pertanda kehamilan-nya yang sudah dua bulan." berkata Salatun.
"Jasmi tidak pernah bilang kalau hamil." lirih sekali suara Gimpul.
"Semua angan-angan gombal itu dibubarkan saja kang." tiba-tiba saja Salatun me-lontarkan isi hatinya yang tidak terduga.
Salatun tak bisa menguasai diri. Matanya membasah. Tiba-tiba saja datangnya ke-sadaran itu. Apa yang dijanjikan Gimpul selama ini, semuanya omong kosong belaka. Ti-ba-tiba pula datangnya kesadaran, betapa selama ini dirinya telah dikupluki Gimpul. Sa-latun bahkan harus kehilangan harta yang paling berharga dan dimilikinya, kehormatan-nya. Kehormatan itu telah direnggut oleh lelaki yang tidak berhak sama sekali. Alasan apakah sebenarnya yang harus dipergunakan Salatun untuk mau meladeni kakak iparnya, atau alasan apa yang dipergunakan Gimpul untuk menjamahnya?
Semakin menyadari semua itu, Salatun menggigil. Gimpul merayap mendekat, menyentuh pundaknya. Namun dengan kasar Salatun menepis.
"Pergi."
Kali ini Salatun membentak, dengan volume suara yang sangat keras membuat Gimpul benar-benar ciut nyali dan dengan terbirit-birit keluar dari ruangan itu. Gimpul tahu, kalau diladeni bisa jadi Salatun akan berteriak-teriak lepas kendali dan memba-ngunkan Jasmi. Hingga kemudian terbongkarlah semuanya. Kalau Tanjir dan Jayus tidak terima dan kemudian membantainya, nyali yang mana yang akan digunakan menghadapi keadaan itu?
Gimpul lari terbirit-birit sambil terkencing-kencing dari kamar Salatun, tidak me-lewati pintu yang telah terbuka, tetapi melewati jendela. Demikian gugupnya Gimpul itu sehingga lagi-lagi terjerembab di luar jendela. Tubuhnya terguling-guling menerjang po-hon salak. Padahal salak ada durinya.
Hari-hari berikutnya banyak dihiasi oleh suara muntah muntah. Gimpul berubah pula perangainya. Apabila semula Gimpul banyak omong melayani isterinya, maka kali ini Gimpul lebih banyak diam.
Gimpul sama sekali tidak senang melihat isterinya hamil. Padahal di saat yang de-mikian Jasmi justru banyak membutuhkan perhatian suaminya. Salatun berubah total. Sa-latun tidak mau lagi diajak bicara oleh Gimpul. Salatun juga tak mau diajak bicara oleh Tanjir dan Jayus, juga bapaknya didiamkan. Salatun benar-benar berubah menjadi gadis pemurung dan beringas yang tak peduli apapun dan siapapun.
Yang paling prihatin terhadap perubahan Salatun adalah Jasmi. Namun Salatun ti-dak mau membagi beban pikirannya pada Jasmi.
Pak Kampun? Pak Kampun akhir-akhir ini banyak pergi. Pak Kampun bahkan menjadi pelanggan tetap sebuah losmen yang terletak di tepi laut di kawasan wisata Gra-jagan. Kalau sore hari sulit mencari pak Kampun, maka di hotel itu pasti ditemukan. Ka-lau pak Kampun tetap mengambil jalan seperti itu, setiap hari menginap di hotel, maka kebangkrutan jelas berada di gerbang matanya.
Pada sebuah hari setelah lama ditunggu, orang yang tertarik pada sawah yang di-tawar-tawarkan itu datang. Sawah milik pak Kampun yang ada beberapa hektar itu mes-tinya bisa laku dua ratus juta. Namun pak Mudjikan itu hanya menawar seratus lima pu-luh juta. Pak Kampun yang tahu sawahnya bisa laku pada harga lebih dari harga tersebut bertahan tak menyetujui tawaran. Namun Tanjir dan Jayus yang misuh-misuh membuang segala macam sumpah serapah, membuat pak Kampun bertambah risih dan kehilangan perhitungan bisnis.
Akhirnya diputuskan oleh pak Kampun, seratus lima puluh juta itu disetujui. Na-mun pak Mudjikan meminta waktu beberapa hari lagi untuk melakukan pembayaran.
Hukum alam rupanya masih nimbrung. Salatun mula-mula tidak punya prasangka apa-apa atas dirinya. Namun kemudian, kecemasan yang luar biasa menggelutnya, me-ringkus tubuhnya dengan lekat. Apa masalahnya? Ternyata akhir-akhir ini juga Salatun mual-mual.
Salatun menghitung waktu, ternyata sepekan lamanya tamu bulanan yang mes-tinya hadir mengunjunginya itu tidak datang, ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.
"Kau kenapa, Tun?" desak Jasmi yang tidak menyimpan prasangka. "Masuk angin ya?"
Salatun diam, juga ketika Jasmi mengambil uang logam seratus rupiah dan lepek dengan minyak kelapa. Kerokan itu sedikit meredakan keinginan untuk muntah.
"Bagaimana sekarang?" tanya Jasmi.
"Agak kepenak." jawab Salatun yang gegernya sekarang loreng-loreng seperti kulit macan karena kerokan itu.
Salatun yang kalut kembali membaringkan diri serta meminta kakaknya untuk meninggalkan sendiri di kamar itu. Manakala sendiri, Salatun kembali digelut gelisah. Kalau benar dirinya hamil, apalagi dengan tanda-tanda yang begitu jelas lantas bagaima-na cara mengatasinya. Perutnya makin lama akan semakin membesar. Dengan cara baga-imana menyembunyikan perut yang abuh akibat dientup Gimpul itu. Gimpul harus ber-tanggung jawab. Apa boleh buat, Gimpul harus bertanggung jawab. Tidak peduli Gimpul adalah suami dari mbakyunya, tidak peduli mbakyunya tengah hamil. Namun layaknya orang yang berani menghamili maka orang tersebut harus berani pula bertanggung jawab.
Pada sebuah kesempatan.
"Apa?" Gimpul kaget.
"Aku hamil." Salatun mempertegas.
Hal itu membuat Gimpul pias. Bibirnya bergetar-getar panik. Bahwa Jasmi hamil telah membuatnya tidak senang. Sekarang Salatun melapor hamil pula. Bagaimana ini?
"Aku menuntut tanggung jawab." kata Salatun tanpa nada mesra sama sekali. Se-mua ucapannya penuh dengan tekanan dan tegas tanpa memberi kesempatan kepada Gimpul untuk mengelak. Gimpul menunduk, Gimpul segera berfikir. Langkah apa lagi yang harus dilakukan untuk menghindari keadaan ini?
"Kau harus mengawiniku."
Gimpul gugup.
"Waduh Tun, bagaimana mungkin?" Gimpul mencoba mengelak dari tanggung ja-wab.
"Aku tidak peduli entah bagaimana caranya. Pokoknya aku tidak mau hamil se-perti ini. Aku harus punya suami." serang iparnya.
Gimpul menata diri, degup jantungnya masih berlarian.
"Tun," kata Gimpul. "Bukannya aku akan lari dari tanggung jawab, sama sekali ti-dak. Akan tetapi marilah kita berfikir bagaimana caranya aku mengawinimu? Apakah aku harus melamarmu kepada pak Kampun? Jasmi juga sedang hamil."
Salatun benar-benar tidak senang dengan jawaban itu. Tatapan matanya amat si-rik tertuju kakak iparnya. Enak saja dulu ia methingkring memanjat tubuhnya seperti memanjat pohon kelapa. Sekarang setelah hamil, Gimpul akan coba-coba mengelak.
"Kau mau mengawini aku apa tidak?" tanya Salatun tegas.
"Kita harus memecahkan masalah ini Tun. Tenanglah. Mari kita cari jalan peme-cahan yang paling enak."
"Mengawini aku apa tidak? Kalau kau tidak mau mengawini aku, aku akan berte-riak sekarang juga. Aku akan beritahu kang Tanjir kang Jayus dan yu Jasmi." Salatun me-ngancam.
Benar-benar sebuah ancaman yang mengerikan kalau sampai hal itu terjadi.
Ada juga penyesalan di dalam hati Gimpul mengapa dulu melakukan semuanya itu. Sekarang Gimpul harus memetik buah dari perbuatannya. Enak hanya sejenak tidak enaknya sundul telak. Andai saja dulu ia tidak tergoda Salatun, tak mungkin akan seperti ini. Gimpul malah menyalahkan Salatun meski dalam hatinya. “Harusnya waktu itu ia menolak. Ia mau, sekarang setelah akibatnya seperti ini, menuntut tanggung-jawab. Kok enak?”
Gimpul amat gugup bergegas meraih Salatun.
"Kita bicarakan semua ini dengan tenang Salatun. Berbicaranya juga jangan ke-ras-keras nanti kedengaran mbakyumu."
Salatun agak tenang.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan rencana kita yang dulu, kita minggat sejauh-ja-uhnya ke suatu tempat di mana tidak akan ada orang yang mengusik kita. Kita minggat ke Surabaya atau ke Jakarta. Di Surabaya atau di Jakarta kita bisa hidup tenang. Pak Kampun tidak akan mungkin menemukan kita. Bagaimana?"
Salatun yang amat pusing memikirkan perutnya yang telah berisi bakal bayi terpa-ku pada pemecahan yang harus diambil untuk mengatasi keadaan yang sangat darurat itu karena sang waktu terus berjalan. Kalau saja sang waktu bisa diajak kompromi untuk berhenti. Atau apabila seperti komputer bisa di-undo.
"Maukah kau melakukan sesuatu sebagi modal cinta kita?" bisik Gimpul.
Melihat Salatun hanya diam, Gimpul kembali menanamkan pengaruh.
"Apa?" tanya Salatun.
Nada suaranya mulai melunak.
"Beberapa hari lagi kalau sawah yang dijual itu sudah jadi uang, kau harus bisa mencurinya. Dengan uang itu kita minggat. Kita tak perlu peduli dengan siapapun. Ba-gaimana?"
Benar-benar sebuah gagasan gila. Salatun melihat hanya itu pemecahan yang se-baik-baiknya. Untuk menutup aib itu memang harus berani minggat. Konsekwensi dari minggat adalah harus tega dan persetan dengan orang lain. Persetan dengan Jasmi, per-setan dengan Tanjir dan Jayus, persetan dengan pak Kampun yang makin lekat dengan Salehak, di mana ada pak Kampun di sana ada Salehak, keduanya nempel terus, melekat seperti perangko. Persetan semuanya juga berarti harus bisa mencuri semua uang hasil penjualan sawah.
Untuk minggat itu butuh modal sebagaimana untuk hidup sehari-hari butuh ma-kan.
Lalu apa sebenarnya gagasan yang bersembunyi di dalam lipatan hati Gimpul itu? Jurus apakah yang harus diambil untuk menghadapi Jasmi dan Salatun yang sama-sama hamil? Bagaimana kalau upaya Salatun menguasai uang penjualan sawah itu tidak ber-hasil? Tidak ada jurus lain kecuali melarikan diri.
Gimpul terlalu takut menghadapi gegeran manakala rahasia kehamilan Salatun terbongkar. Apabila Tanjir dan Jayus menggoroknya, Gimpul ngeri membayangkan itu. Melihat kasar dan beringasnya, tidak mungkin Tanjir dan Jayus tidak menggoroknya. Ndugal macam apapun mereka, bila melihat adiknya dinistakan seperti itu tentu tidak akan terima. Itu artinya, bisa pothol ndhasnya Gimpul.
Gimpul membelai rambut Salatun dengan lembut. Salatun yang merasa beban di dadanya amat sesak berjejal-jejal itu tidak bisa menguasai diri dan segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan kakak iparnya itu. Tangisnya terurai, akan tetapi Salatun bersedia meredam isak tangis itu atas permintaan Gimpul.
"Kau bisa melakukan itu? Hanya uang itu yang bisa menyelamatkan kebersamaan kita. Untuk minggat kita butuh ongkos. Sesampai di tempat tujuan kita butuh uang untuk membangun rumah, beli mobil dan biaya hidup sehari-hari. Bagaimana?"
Dalam situasi yang sangat sulit semacam itu masih sempat-sempatnya Gimpul be-rangan-angan soal mobil. Tetapi sebenarnya angan-angan itu logis. Sebab, jika uang pe-njualan sawah itu bisa dikuasai, jelas bisa menyisihkan sebagian untuk beli mobil yang murahan, yang harganya sekitar sepuluh juta.
Mobil apa seharga itu? Yang penting mobil. Kalau perlu nyicil, mula-mula mur dan bautnya, lalu ban, lalu stir, lalu kaca spion. Salatun mencerna alasan itu, mengunyah-kunyah, dirasakan memang benar semua.
Alasan yang dikatakan Gimpul itu benar semuanya. Memang tidak ada pilihan la-in kecuali harus mencuri uang itu. Rencana itu tidak boleh tertunda, semakin hari pe-rutnya akan semakin membesar. Tentunya hanya soal waktu belaka, pada saatnya nanti rahasia tentang perutnya yang telah berisi jabang bayi itu akan terbongkar, bau busuk itu akan menyebar. Salatun tidak bisa membayangkan bagaimana harus menghadapi mbak-yunya. Salatun juga tidak bisa membayangkan, bagaimana cara menyembunyikan wajah-nya.
"Aku harus mencuri uang itu?" tanya Salatun lirih.
Melihat kegamangan Salatun itu, Gimpul merasa perlu mengobral janji.
"Aku akan membawamu ke Surabaya. Atau ke Jakarta. Jakarta kota yang sangat besar. Di tempat macam itu peluang untuk kita akan terbuka amat lebar, asal ada modal. Di samping itu di Jakarta ada tugu Monas, pucuknya terbuat dari emas. Bayangkan Tun, di Jakarta emas hanya dianggap remeh seperti itu. Di sini?"
Benar-benar sebuah bujukan yang sangat menggemparkan dan canggih. Salatun kian larut.
"Jadi bagaimana? kau sanggup?"
"Untukmu, aku akan melakukan apapun kang Gimpul."
Nah. Benar kan? Rayuan Gimpul menjerat sasaran. Untuk Gimpul, Salatun sang-gup melakukan apapun. Padahal rayuan yang digunakan suami Jasmi itu rayuan yang mu-rahan saja.
"Terimakasih Tun, Ai laf yu." Gimpul berbahasa Inggris.
"Mi tu." Balas Salatun sambil berbisik. Maksudnya “Me too.”
"Terima ini dan simpan. Kelak pada saatnya kau bisa menggunakan untuk mem-perlancar operasi."
"Apa ini kang?" Salatun penasaran.
"Pil koplo." jawab Gimpul. "Jika diminum, akan menyebabkan siapa yang memi-numnya akan mengantuk luar biasa, atau istilah tepatnya teler. Jika pak Kampun dan Bu Salehak teler, maka dengan mudah kau bisa mengambil uang itu."
"Apa yang harus aku lakukan dengan obat ini?" tanya Salatun yang masih belum paham.
"Ingat Tun, kalau sawah itu sudah jadi uang, entah bagaimana caranya, bapak dan Ibu tirimu harus meminumnya. Itu kesempatanmu mengambil uang itu. Perkara Tanjir, Jayus dan Jasmi, mereka menjadi bagianku."
Gimpul beranggapan salah satu masalah telah diatasi untuk sementara waktu. Na-mun itu belum berarti Gimpul merasa tenang dan menang. Karena lamat-lamat Gimpul membayangkan malapetaka menghadang. Masalahnya bagaimana Gimpul harus bisa me-nyiasatinya. Jika tidak ada yang luar biasa maka rencananya mungkin akan berjalan de-ngan baik. Tetapi bagaimana jika pak Kampun menyimpan uang itu tidak di bawah bantal, tetapi di bank?
Gimpul resah membayangkan kemungkinan itu.
Gimpul memandang Salatun dengan tatapan mata mesra. Sayang sekali Salatun tak tahu apa yang ada di benak Gimpul tak sama dengan yang tersirat di wajah. Jika Gimpul merasa sebel pada Jasmi yang hamil, maka sebenarnya Gimpul juga sebel terha-dap Salatun yang hamil. Malam itu, setelah Gimpul memberikan kehangatan, Salatun bi-sa tidur dengan tenang.
Setidak-tidaknya, gelisah yang menghantuinya telah memperoleh jalan pemeca-han. Mungkin karena janji-janji yang ditabur Gimpul merupakan obat yang mujarab, Sa-latun tidak mual-mual lagi.
Namun bukan hanya Salatun yang membutuhkan kehangatan.
"Kang Gimpul," kata Jasmi mesra.
Jasmi yang hamil muda sebagaimana para isteri yang hamil muda, ingin dimanja suaminya.
"Apa?" tanya Gimpul datar saja.
"Aku ingin makan bata merah." kata Jasmi.
Gimpul terlonjak.
"Apa?" Gimpul dengan wajah bingungnya.
"Aku ingin makan bata merah."
Gila. Apa-apaan ini? Jasmi ingin makan bata merah?
Bukannya Gimpul tidak bisa memenuhi keinginan isterinya. Bata merah toh ber-serakan di mana-mana. Tetapi makan bata merah? Gimpul menggigil. Gimpul tahu ke-anehan macam itu adalah bagian kehamilan isterinya. Orang hamil memang suka ngidam yang aneh-aneh. Tetapi makan bata merah? Apa tidak keterlaluan?
Gimpul bingung seperti orang tolol. Gimpul melongok bawah tempat tidur dan segera meraih bata merah. Gimpul ngeri membayangkan Jasmi akan mbrakoti bata me-rah itu , Gimpul menyodorkan benda itu pada isterinya.
"Bukan yang ini." kata Jasmi dengan kerling mata manja.
"Kau benar-benar ingin makan bata?" tanya Gimpul.
"Bukan aku, anak kita." jawab Jasmi.
Gimpul menggigil. Baru di dalam perut sudah berulah seperti itu, minta makan bata merah. Lalu bagaimana nanti kalau sudah lahir, apa tidak menjadi monster yang me-nakutkan?
Gimpul tidak tahu semua itu bisa jadi hanya perlambang saja. Mungkin saja to a-naknya nanti lahir laki-laki. Bata merah itu menjadi perlambang kelak anaknya akan jadi tukang batu. Ahli jiwa mengatakan, bakat manusia bisa dideteksi sejak dini, misalnya kalau Ibu hamil ngidam menciumi roda sepeda anaknya akan menjadi tukang becak, atau kalau ngidam mencuci pakaian, kelak anaknya akan menjadi babu.
"Anakmu, ingin makan bata?" desak Gimpul semakin penasaran.
"Ya." jawab Jasmi. "Tetapi bukan batu bata yang itu."
Gimpul mencuatkan alis.
"Lalu?" Gimpul masih penasaran.
"Batu bata di rumah kita yang dulu, di Tegaldlimo Kidul."
Gimpul manggut-manggut. Itulah rupanya yang menjadi salah satu sebab menga-pa Gimpul tidak suka pada perempuan hamil. Perut yang membesar ke depan seperti gen-derang merupakan pemandangan yang tak begitu sedap.
Itu menurut Gimpul.
"Besok aku akan ke sana." jawab Gimpul sambil merebahkan diri.
"Sekarang." kata Jasmi.
Gimpul kaget. Sekarang?
Malam-malam seperti ini minta dicarikan bata merah, bukan sembarang bata me-rah karena harus diambil dari rumah yang dulu ditempatinya di Tegaldlimo Kidul? Jasmi mendorong suaminya yang sudah berbaring.
"Sekarang." desaknya.
Gimpul tambah bingung.
"Aku harus mengambil bata merah ke ke sana sekarang?" desaknya.
"Ini bukan kemauanku kang Gimpul. Ini keinginan anak kita. Dia ingin makan bata merah." jawab Jasmi.
Amit-amit. Kalau Jasmi ngidam ingin makan mangga muda itu lumrah. Yang ini ngidam bata merah. Bata merah itu harus diambil di rumah Tegaldlimo Kidul. Padahal jarak yang harus ditempuh dengan jalan kaki lumayan jauh, apalagi harus lewat sawah. Jarak yang sanggup meretakkan tulang.
"Tunggu apa lagi kang Gimpul? Cepatlah."
"Ya. Ya." jawab Gimpul agak panik.

About Me

Powered By Blogger